BUTTERFLY

PhotoGrid_1462514592166

TITLE : BUTTERFLY

AUTHOR : I YONGIE

GENRE : ROMANCE, FRIENDSHIP, HURT, FAMILY.

MAIN CAST:        LEE YONGJIN, SONG DAEHAN.

CAST           :       KIM HANBIN, UHM JION, KIM TAEYEON.

LEE FAMILY : LEE DONGHYUK, CHEON HANA, LEE YURA

SONG FAMILY : SONG MINGUK, SONG MANSE

CHIEF JANG WOOYOUNG

RATING : NC-17

LENGTH : ONESHOOT

SUMMARY : ”You’re just butterfly, I’m afraid Incase you’ll fly away or shatter if I let go of your hands.”

BACK SONG :

BTS – BUTTERFLY

SON HOYOUNG FEAT DHANNY AHN – JUST ONE DAY

 

—STORY BEGIN—

 

AUTHOR POV

 

Cuaca malam hari musim gugur di kota Seoul memang yang terbaik, angin berhembus dengan lembutnya dan sedikit menggoyahkan dedaunan yang menggantung dibatang pohon yang membuat wanita cantik tersenyum manis sambil memandangi pemandangan yang indah itu. Ya, lee yongjin terus bersenandung saat melewati taman yang dekat dengan apartement termewah di kota seoul, ia tak merasa terbebani oleh dua bungkusan yang terlihat cukup berat untuk seorang wanita dan terus tersenyum seperti remaja yang baru jatuh cinta, ya memang dia sedang jatuh cinta. Dan setelah melewati proses pengamanan apatement ia langsung memencet angka 12 di lift yang transparan itu.

 

”aku akan membuatkan makan malam untuknya, ia pasti akan senang.” Batin yongjin saat lift berdenting ia segera keluar dan memencet passcode apartement namun saat yongjin akan melepaskan sepatunya ia melihat dua pasang sepatu berserakan, ia melihat ada hal yang janggal yongjin masuk dan saat mendekat kearah kamar tidur ia mendengar suara seseorang.

 

Ia mendekat perlahan dan saat mencapai daun pintu ia bisa melihat seorang pria sedang membaringkan sang wanita diatas ranjang dengan tangan wanita itu bergelantung bebas dipundak sang pria memudahkan mereka untuk saling menyentuh.

 

Yongjin melebarkan matanya dan menutup mulutnya, seakan ada yang menghentikan oksigen disekitar yongjin ia tak bisa bernafas dengan baik.

Yang yongjin lakukan hanya diam mematung menyaksikan hal yang menghancurkan hatinya berkeping-keping “aku membencimu song daehan” batin yongjin

 

 

 

—-at morning—–

 

Hal yang pertama kurasakan saat membuka mataku adalah kepalaku berdengung, penglihatanku kabur dan perutku sangat sakit, mungkin efek alcohol yang semalam kuminum. Jika kalian beranggapan bahwa aku wanita yang hobi menghamburkan uang ke club malam, jawaban kalian salah besar karena tadi malam adalah malam perdana seorang Lee Yongjin meminum alcohol, sebagai seorang perawat aku tentu tahu jika alcohol itu tak baik untuk tubuh tapi aku mengabaikan fakta itu dan menghabiskan lebih dari 3 botol hanya karena seorang pria.

 

Ya, pria yang selama ini ku ‘klaim’ sebagai temanku. Apakah kalian pernah mendengar sebuah pepatah “tak pernah ada kata persahabatan antara wanita dan pria”? ya, sekarang aku setuju dengan siapapun yang membuat pepatah itu karena aku mengalaminya sendiri.

 

Akupun tak mengerti tentang hubungan yang aku miliki dengan Song daehan, seorang pria yang nyaris sempurna dengan prestasi yang menggunung ditambah dengan sosoknya yang mendominasi dan jangan tanyakan tentang ketampanannya, kulit seputih salju hidung simetris bibir merah yang tipis ditambah dengan kacamatanya yang membuat kesan ‘jenius’ sangat sulit untuk tak jatuh pada pesona seorang song daehan aku yakin bahkan para pria pun iri dengan semua yang ada pada song daehan.

 

Kami terlalu dekat untuk pertemanan antara wanita dan pria, tapi di lain sisi tak pernah ada kata ‘pacaran’ dan jika ada seseorang yang menanyakan tentang kita bersembunyi dengan menganggap satu sama lain sebagai ‘teman’.

 

Seseorang yang kucintai hanya menganggapku seorang teman, aku tahu dan sudah berkali-kali aku mengingatkan diriku bahwa dia hanya seorang teman. Percayalah aku pernah mencoba berkencan dengan pria lain, namun yang terjadi selalu sama, pacarku selalu pergi karena alasan yang tak jelas.

 

Dan mulai hari itu aku memutuskan untuk tak berkencan dan fatalnya aku terperosok lagi pada pesona seorang song daehan, aku tahu bahwa aku tak boleh seperti itu  tapi hatiku tak menuruti apa kata otakku, aku mencintainya dan gawatnya cinta itu semakin membesar seiring berjalannya waktu hingga aku tersesat dengan pesonanya hingga malam kemarin aku melihatnya di apartemen.

 

Jangan tanyakan aku bagaimana rasanya karena aku pun tak ingin mengingat kembali rasa sakitnya. Sakit, seperti ada yang menarik hatiku secara paksa dan aku seperti orang bodoh yang melihat kejadian itu dalam diam.

 

‘kau tak ada hak untuk melarangnya lee yongjin, kau hanya teman ya hanya seorang teman’ batinku  

 

Aku mempunyai prinsip jika memulai sebuah hubungan pria lah yang harus menyatakan perasaanya terlebih dahulu, Eomma pernah mengatakan “meskipun kau tahu ada seorang pria mencintaimu namun ia tak pernah menyatakan perasaannya itu sama saja kau tak berarti apa-apa karena jika seorang pria mencintaimu ia akan memperjuangkanmu sampai akhir”

 

Karena sampai kapanpun aku takkan pernah menyatakan perasaanku terlebih dahulu dan song daehan yang tak pernah peka dan hanya memperdulikanku secara berlebihan seakan aku adalah anak kecil yang akan hilang jika ia melepaskan tanganku. Ya, aku akan membuat keputusan sekarang. Tak ada lagi Lee Yongjin yang mecintai Song Daehan.

 

Memang tak mungkin melupakan seorang song daehan secepat itu tapi setidaknya aku harus menjaga hatiku agar tak jatuh ke lubang yang lebih dalam. Sudah lama aku mengabaikan kebahagiaan diriku demi rasa cinta konyol ini, bukankah aku berhak bahagia? Aku tak bisa terus menerus menuruti semua perintah song daehan dan hanya bisa diam saat ia menyakitiku.

 

Dengan rasa malas setangah mati kududukkan tubuhku dan mulai mencari handphoneku yang entah berada dimana, setelah kurasakan benda kotak di indera perabaku langsung kuraih dan aku tersentak melihat berapa missed call dan pesan yang kuterima yang aku terima. Appa, yura eonni, dan …. Song daehan

 

From :Yura Eonni

Ya! Lee yongjin, aku tahu kau tak lembur dirumah sakit. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Aku sudah menanyakan pada daehan dan dia juga ikut panic mencarimu. Hubungi aku jika kau membaca pesan ini! Kau berhutang penjelasan padaku.

 

 

From : appa

Young, jangan lupa makan dan istirahat, kenapa tak bilang kau akan lembur? Eomma-mu khawatir sejak tadi

 

From: Song Daehan

Young kau dimana? Angkat telfonku                                                                                              21.22 PM 

Maaf aku lupa memberitahumu aku ada sedikit urusan dan akan sedikit terlambat menjemputmu, apa kau baik-baik saja? Kau tidak lupa kan jika mala mini kita akan makan malam bersama                                                                                                                                                                               21.40 PM

 

Lee yongjin angkat telfonmu!                                                                                                          22.00 PM

Ya! Apa kau marah padaku? Aku minta maaf                                                                            22.45 PM

Lee yongjin, aku yang salah maafkan aku.                                                                                 23.00 PM

Kau dimana sekarang aku akan menjemputmu                                                                        23.11 PM

Young, kau dimana?  Kau tak ada dirumah sakit, rumah dan apartement kita.             23.34 PM

Jangan katakan kau bersama si brengsek itu                                                                              23.55 PM

Kau membuatku marah lee yongjin                                                                                               00.56 PM

 

Dengan malas aku menyentuh tanda back pada smartphoneku, lagi dan lagi mana mungkin aku tak berfikir kita lebih dari sekedar teman dengan semua perhatian yang kau berikan padaku?

 

Sekuat apapun aku membencimu rasa cintaku lebih besar bahkan setelah semalaman aku memaki diriku sendiri karena mencintaimu sekarang setelah melihat pesanmu aku goyah, lagi.

Tidak boleh! Kau tak bisa begini lee yongjin! kau harus tau batasmu.

Biarkan saja lee yongjin kau harus menahan dirimu dia hanya mengkhawatirkanmu itu biasa. Kulemparkan handphoneku ke sembarang arah dan mulai menurunkan kakiku lalu memakai sandal baby pig yang ada dibawah kasur.

Emm  aku tak bisa pulang dengan keadaan seperti ini, mungkin aku akan lebih lama disini.

Eoh? Aku dimana sekarang? Ya lee yongjin kau semalam mabuk dank au bangun ditempat yang asing. Aku mengecek pakaianku dan “WAAAAAAAAAAA EOMMAAAAAAAAA”

“Ya lee yongjin ini masih pagi hari kau mau dimarahi oleh tetanggaku yang super duper ganas?” gerutu taeyeon yang datang dengan tampan berisi sup Pereda mabuk

 

“wae? Kau kaget karena bajumu berubah menjadi piyama? Jangan salahkan aku yang lancang mengganti bajumu salahkan kelakuanmu saat mabuk yang tak terkendali dan muntah di apartementku yang berharga ini.” Entah mengapa aku merasa lega melihat taeyeon dan tak kusadari aku sudah membuat lengkungan diwajahku

 

“wah? Lihat dirimu lee yongjin kau semalam seperti seorang ahjumma yang patah hati yang memporak porandakan bar dan sekarang kau tersenyum seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa. Menyebalkan! Bagaimana aku akan marah jika kau memandangku seperti itu.” Taeyeon mendekat dan memberiku nampan yang dipegangnya

 

“mianhae taeyeon-a kau memang malaikat pelindungku” dengan lahap aku memasukkan makanan yang dibuat taeyeon untukku

 

“jadi, kau mau bercerita kenapa kau menghabiskan 3 botol alcohol pertamamu tanpa seorangpun disisimu?” aku langsung berhenti mengunyah dan melihat taeyeon dan memberikan senyumanku “si brengsek itu lagi kan? Apa yang dia lakukan hingga mampu membuat yongjin kecilku menjadi gila semalam” ucap taeyeon dengan penuh kelembutan dan memelukku, aku tahu ia khawatir padaku karena hanya taeyeon yang tahu asli ceritaku dengan daehan dari awal hingga saat ini.

Dan dengan wataknya yang sedikit tomboy aku sangat nyaman berteman dengannya sejak 2 tahun lalu kami ditugaskan bersama di ruang VIP.

 

“cha! Sekarang kau tak perlu bersiap untuk kerja karena aku akan menggantikan shift mu hari ini, kau boleh disini sampai kapanpun tapi coba hubungi keluargamu karena eomma mu sungguh mengkhawatirkanmu semalam dan aku berbohong jika kau ada shift malam.” Taeyeon melepaskan pelukannya dan meletakkan tangannya dipundakku dengan wajah yang serius

 

“aigoo gomawo eonni kau memang yang terbaik!” aku mengangkat dua jempolku

 

“ya! Sudah kuberitahu berapa kali jangan memanggilku eonni aku tak suka” teriak taeyeon sambil melangkah ke kamar mandi, dia pasti akan bersiap-siap dan aku harus menghabiskan sup ini lalu segera pulang kerumah.

 

YONGJIN POV END

 

 

AUTHOR POV

 

Hari sudah mulai gelap, anginpun mulai berhembus kencang.  Namun lee yongjin masih terjebak macet saat menuju rumahnya.

Benda kotak tipis itu bergetar dan berhasil memperoleh perhatian dari wanita cantik yang sedang focus memperhatikan jalan, setelah menggapai benda itu yongjin terlihat mengerutkan dahinya “song daehan calling” yongjin terus terdiam dan dikkejutkan dengan suara klakson yang menyuruhya bergerak karena sudah lampu hijau dengan tergesa-gesa yongjinpun menjalankan kembali mobilnya dan mengabaikan panggilan dari sahabatnya

 

Missed call Song Daehan(48)

 

–At Home–

 

“aku pulang” suara lembut itu menggema diruang keluarga dan terlihat orangtuanya yang sedang bermesraan sambal menonton acara tv kesukaannya siapa lagi kalau bukan song triplets yang sedang melejit itu

 

“eoh wasseo? Chamkan illowabwa” kata ayahnya dengan senyuman dan seperti sihir wanita dengan tubuh proposianal itu menuruti perintah ayahnya

 

“ada apa appa?” dengan was-was ‘apa mungkin appa tahu aku berbohong?’ batin yongjin

 

“bagaimana harimu nak? Apa kau kelelahan setelah lembur? Kau tak melewatkan jadwal makanmu kan?” tanya tuan lee masih dengan senyuman diwajahnya

 

“aniya appa, aku makan dengan baik. wae? Tak biasanya appa membicarakan ini” jawab yongjin masih dengan intonasi was was nya

 

“aniyaa geunyang appa ingin bertanya sesuatu, dan kau harus menjawabnya dengan jujur eo?” yongjin mengagguk dan menundukan wajahnya sambal menggigit bibirnya ‘sial! pasti ayah tahu aku berbohong, eottoke?’ batin yongjin

 

“apa kau sudah mempunyai pacar?” DUARR yongjin seperti medengar bom saat ayahnya menanyakan hal itu. Ia lega karena perkiraannya salah tapi sedikit bingung kenapa ayahnya tertarik dengan kehidupan cintanya?

 

“wae appa? Tak biasanya ayah menanyakan hal seperti ini” dengan wajah kaget yongjin menatap ayah dan ibunya sambil menggaruk lehernya yang tak gatal

 

“tidak, hanya saja ada seseorang yang ingin melamarmu. Appa yakin dia anak yang baik karena ayah sudah pernah bertemu dengannya. Kami sepakat untuk menjodohkan kalian.” tutur alee donghyuk dengan pelan dan lembut agar anak bungsunya ini tak salah tanggap namun yongjin hanya diam ” Bagaimana menurutmu? Appa tak memaksa jika kau tak mau”tambahnya lalu meraih tangan yongjin dan mengusapnya hal sekecil itu yang membuat yongjin tak bisa menolak permintaan ayahnya, ia bimbang.

 

“youngi, sebenarnya apa hubunganmu dengan Song daehan, apakah kalian pacaran?” kini giliran ibu yongjin yang bertanya

 

“ani, dia hanya teman eomma” lirih yongjin

 

“eoh kalau begitu tak ada alasan kau menolak perjodohan ini young, kau sudah sampai pada umur untuk menikah. Bahkan kakakmu sudah mempunyai bayi, apakah kau tak iri? Eomma yakin pria ini baik dan mampu menjagamu. Dan beruntungnya ia sudah mengenalmu dan langsung meminta ayahnya untuk menjodohkannya denganmu.” Tutur eomma yongjin

 

“dia mengenalku? Nugu?”

 

“kau akan mengenalnya jika bertemu nanti, eomma akan memberitahu kapan dan dimana kalian bertemu. Call?” tawar eomma dan yongjin yang bimbang hanya mengangguk sebagai jawabannya. Tak ada salahnya bertemu dengan pria yang dijodohkan dengannya bukan?. ‘setidaknya aku harus bertemu dengan pria lain agar melupakan daehan. Gwenchana lee yongjin kau pasti bisa’ batin yongjin

 

“baik kalau begitu cepat mandi dan makan, kim ahjumma sudah memasakkan sup kesukaanmu”  ujar nyonya lee

 

“arasso eomma” kata yongjin dengan lemas namun memaksakan untuk tersenyum agar tak membuat orangtuanya cemas

 

 

Cahaya matahari mulai menunjukan sinarnyanya tapi yongjin masih saja meringkuk di ranjangnya. Oh bukan karena dia masih terlelap tapi dia hanya diam dan tak menutup matanya sekalipun untuk tidur. Yongjin tak tidur semalaman karena memikirkan song daehan, meskipun ia sudah bersumpah untuk melupakannya tapi apa daya jika kenangan 13 tahun-nya terus saja melintas dipikirannya bahkan saat yongjin menutup mata ia selalu melihat daehan-nya.

 

Salahkan song daehan karena ia yang mendominasi memorinya karena hampir seluruh waktu yongjin tak pernah seharipun daehan absen untuk tak melihatnya.

 

‘andwegetta aku harus kerja sekarang. Sudah cukup aku mengurung diri selama 2 hari ini, kau bisa lee yongjin. Ajja ajja hwaiting!” batin yongjin

 

 

–In the Morning-

 

“selamat pagi appa eomma!” sapa yongjin sambil mencium pipi orangtuanya bergantian dan lihatlah senyumnya yang manis itu seperti bukan orang yang sedang patah hati

 

“selamat pagi nak, ini roti selai coklat kesukaanmu” kata eomma sambal mneyodorkan rotinya

 

“gomawo eomma” yongjin berkata dengan mulut penuhnya

 

“aigoo young pelan-pelan kau bisa tersedak nak” ujar appa yang sedang membaca koran

 

“sudah tak ada waktu appa eomma aku harus berangkat sekarang atau aku akan terlambat. Na khalke!” ucap yongjin saat sudah meminum susu coklatnya

 

“young, sore ini kau harus bertemu dengan calon suamimu. Eomma akan memberitahu alamatnya nanti, arasso?” ucap nyonya lee sedikit berteriak dan hanya ditanggapi yongjin dengan gumamannya

 

“aigoo dia masih saja manja, bagaimana jika dia sudah menikah nanti” gumam tuan lee dan menggeleng-gelengkan kepalanya

 

 

–at hospital–

Yongjin yang bertugas pagi mulai kewalahan dengan banyaknya pasien yang datang hari ini, bahkan saat istirahat seperti ini ia harus mendatangi pasien yang memanggilnya.

Dengan langkah yang tergesa-gesa yongjin melewati beberapa ruangan namun saat melewati ruang radiologi dia menangkap siluet pria yang sangat dikenalnya, ‘ada apa dia disini’ batin yongjin

 

Dan beberapa saat kemudian pria itu berbalik dan langsung memberikan tatapan tajam pada gadis yang ditatapnya namun lee yongjin tetap melangkahkan kakinya dan saat akan melewati pria itu menggapai lengan yongjin dan menariknya namun usaha itu gagal karena yongjin menangkisnya, tak putus asa daehan pun menarik kembali lengan yongjin sampai menabrak tubuhnya.

 

“aku sedang sibuk daehan-a.” jelas yongjin dengan suara lembutnya

 

“terlalu sibuk untuk mengangkat telfon dan membalas pesanku?” dengan intonasi yang rendah membuat suara pria itu semakin mengerikan. Yongjin sudah lelah dengan kelakuan daehan yang seperti ini.

 

“Lain kali akan kuangkat telfonmu” ucap yongjin tanpa melihat mata tajam pria itu

 

“semalam kau ada dimana? Bertemu dengan pria brengsek itu lagi? HAH?” jelas daehan memegang dagu yongjin dan membuat wajah yongjin keatas agar menatap matanya “aniya” jawab yongjin datar

 

“koetjimal! Lalu kenapa kau tak memberi kabar apapun padaku?!” tanpa daehan sadari ia meremas tangan yongjin dan berhasil membuat yongjin meringis

 

“kau bukan ayahku ataupun kakakku, Mengapa aku harus melporkan semuanya padamu?” jelas yongjin dengan smirknya

 

“Apakah seorang teman tak boleh mengkhawatirkan temannya sendiri yang tak pulang kerumah dan berbohong pada orangtuanya dia lembur kerja?” jelas daehan dengan pandangan yang tajam dan rahangnya yang mengeras

 

“setidaknya kau harus memberiku privasi, ada disaat dimana aku tak ingin memberitahumu tentang suatu hal dan ingin mengatasinya sendiri. Jadi tolong hargai keputusanku daehan-a, sekarang aku sedang sibuk kita bicara lain kali saja eoh?.” Pinta yongjin dengan menunjukan tatapan sinisnya dan entah mengapa setelah melihat itu daehan mengalihkan pandangannya menahan emosi yang sedikit lagi mencapai puncak

 

“aku akan menunggumu sampai kau pulang.” Kata daehan tak terbantahkan

 

“aku tak bisa, aku sudah ada janji.” Elak yongjin dan berusaha melepaskan pegangan daehan yang mulai memerah dan ia yakin pasti akan membekas

 

“nugu-rang?” jelas sekali suara daehan seperti orang yang menahan amarah

 

“chingu.” Cicit yongjin karena ia merasa menjadi pusat perhatian sekarang dan juga tangannya yang sudah memanas Karena daehan semakin erat memegang dagu dan lengannya

 

“sialan, kau akan bertemu dengan bajingan itu? Lagi?” daehan sudah tak mampu menahan amarahnya ia tak peduli jika sekarang ia dicap pria kasar oleh semua orang yang berada disini

 

“aniya, bukankah aku sudah berjanji untuk tak menemui kim myungsoo lagi padamu. Cukup daehan-a sampai kapan kau akan seperti ini?” pinta yongjin memelas  berusaha melepaskan pegangan daaehan pada tangannya yang ia yakin pasti membekas

 

“itu semua takkan terjadi jika kau menuruti perintahku lee yongjin!” daehan memajukan wajahnya dan tepat didepan wajah yongjin daehan menunjukan tatapan itu lagi.

 

“arasso kita bertemu ditempat biasa setelah aku pulang, tolong lepaskan ini. Lenganku sakit song daehan!” kata yongjin ketus setelah daehan melepaskan pegangannya yongjin langsung menggerakan kakinya menuju pasien yang tadi memanggilnya

 

‘sebenarnya apa maumu song daehan! aish aku pasti akan di introgasi oleh nenek tua itu lagi’ batin yongjin

 

namun tanpa sepengetahuan yongjin daehan melihat punggung yongjin dengan mata yang tak bisa diartikan.

Marah? Sedih? Atau senang melihat yongjin baik-baik saja? Karena kemarin daehan seperti orang gila mencari yongjin hampir diseluruh kota seoul dan mengerahkan semua pegawainya untuk mencari yongjin.

 

‘syukurlah kau baik-baik saja yoong’ batin daehan

 

 

——————————- At Soshi café—————————–

 

Song Daehan adalah arsitektur yang terbilang sangat sukses diusianya yang masih muda untuk menjabat jabatan direktur meskipun itu hasil warisan ayahnya. Daehan membuktikan ia dapat memajukan perusahaan yang telah dibangun ayahnya dari nol dan sekarang tak ada satupun orang yang tak mengenal Song’s Corp. tak hanya berbisnis tantang arsitektur kini song’s corp merambah bisnis industri hiburan, pariwisata, fashion dan hotel. Dan semua itu berkat ke’jenius’an song daehan.

 

Dengan watak yang perfectionist, mendominasi, tegas, dan sangat disiplin ia berhasil membuat semua orang segan bahkan hanya untuk berbicara langsung dengannya. Dan dengan keberhasilannya semua wanita hanya akan menganga jika melihat song daehan secara langsung bahkan banyak rekan kerjanya yang berusaha untuk menjodohkannya dengan anak mereka namun daehan selalu menolak dengan tegas bahwa ia sudah memiliki calon namun sampai sekarang Daehan tak pernah memberitahu secara resmi siapa yang akan menjadi wanita beruntung itu.

 

Song Daehan mempunya 2 Saudara Kandung yang masing-masing terpaut 2 tahun dengannya. Song Minguk dan Song Manse, mereka adalah adik kesayangan daehan meskipun daehan jarang menunjukannya dengan tindakan percayalah daehan akan melakukan apapun agar adik-adiknya bahagia.

 

Karena umur adik-adik daehan yang berdekatan dengannya ia tak terperhatikan oleh kedua orangtuanya, untungnya daehan mengerti dan belajar mandiri sejak kecil ia sudah menunjukkan bahwa ia seorang kakak sejati dengan menjaga adiknya dan memarahi adiknya jika melakukan kesalahan.

 

Namun setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kedua orangtuanya daehan menjadi pribadi yang tertutup dan terkesan dingin, ia menyalahkan dirinya sendiri karena hanya daehan yang selamat di kecelakaan itu.

Karena adik-adiknya yang masih kecil mereka tak ingat tentang itu, namun itu menjadi sebuah trauma tersendiri bagi daehan di usia 8 tahun daehan harus mengurus kedua adiknya dan mendidik mereka dengan sebagaimana cara orangtua mereka ajarkan pada daehan. Daehan memutuskan untuk memilih chief jang untuk menjadi walinya sampai ia berusia 17 tahun, dan disaat masa kelamnya hadir seorang gadis yang memasuki hati daehan yang gelap ‘lee yongjin’ hanya pada yongjin daehan berani menunjukan sisi lemahnya.

 

Sejak kecil daehan sudah tertarik dengan dunia arsitek ia menyukai itu bukan tanpa alasan tapi karena ayahnya juga seorang arsitek dan ibunya seorang hakim. Ia mempunyai gen yang kuat dan membuatnya menjadi jenius dan berhasil seperti sekarang.

Tak kalah dengan daehan Minguk pun mewarisi kecerdasan yang tak biasa, ia bisa menjadi dokter di usia 22 tahun dengan peringkat coumloud di Universitas Seoul.

Namun berbeda dengan kakak-kakaknya si bungsu mansae tak memiliki semua itu karena dimanjakan sejak kecil ia menjadi sedikit pembangkang dan manja pada pada hyung-nya namun dengan keahliannya mengendarai mobil ia menjadi pembalap nasional yang dibanggakan negara dan jangan lupa karena wajahnya yang menawan tentu saja banyak media yang memanfaatkan ketampanannya untuk menjadi model-nya.

 

Ya, kelemahan terbesar seorang song daehan adalah kedua adiknya dan tentu saja lee yongjin-nya.

 

 

Terhitung sudah 4 jam daehan menunggu yongjin namun wanita itu tetap belum menunujukan tanda kehadirannya, berkali-kali ia memeriksa jam tangan rolex-nya tetap gadis itu belum datang.

‘apa mungkin ia lupa?’ batin daehan

Sebenarnya daehan sudah hafal dengan kebiasaan wanita itu.

Ya, seorang Song Daehan yang selalu ditunggu orang-orang penting dan sangat anti mentolerir kata ‘terlambat’ sedang menunggu Lee Yongjin. Bahkan ia rela menunggu selama 5 jam dicafe yang biasa ia kunjungi dengan yongjin, bukan hanya itu ia bahkan rela mengelilingi kota seoul semalaman karena mendengar kabar dari yura bahwa yongjin tak pulang kerumah dan tak ada dirumah sakit-tempat kerjannya- bahkan setelah mengerahkan pengawalnya untuk mencari yongjin ia tetap tak tenang dan ikut mencari dan setelah mengetahui keadaan yongjin dari pengawalnya barulah ia tenang dan bisa pulang kerumahnya meskipun masih ada yang mengganjal karena yongjin tak menjawab telfonnya atau membalas pesannya.

 

Ya, Song Daehan tak mengerti dengan perasaannya sendiri mengapa ia begitu khawatir jika tak mendapat kabar dari yongjin barang 1 jam.

Yongjin harus memberinya kabar apapun yang terjadi dan ia sangat tak suka yongjin berdekatan dengan pria lain karena daehan merasa terganggu dengan itu.

Yongjin hanya boleh berdekatan dengannya, tak boleh ada yang lain. Mungkin karena mereka sudah bersama sejak JHS dan terbiasa melindungi yongjin dari aksi jail para lelaki yang ingin menggoda yongjin-nya timbul rasa ingin melindungi satu sama lain.

 

Hampir setengah dari umurnya daehan dan yongjin bersama, meskipun yongjin juga dekat dengan adik daehan tapi daehan lah yang paling dekat dengan yongjin.

Dan saat daehan mendengar suara bell pintu ia langsung mengarahkan wajahnya pada sumber suara tersebut, seperti perkiraannya yongjin selalu datang terlambat dan selalu cantik? Ia suka saat yongjin mengikat rambutnya keatas tanpa poni dan menyisakan sisa-sisa rambutnya sedikit memberi kesan feminim dan jangan lupa dengan leher yang jenjang dan rahang yang lancip itu, yongjin-nya tak berubah sedikitpun ia tetap menjadi wanita tercantik didunia versi daehan.

 

Ia terdiam sebentar saat mata sipit itu menatap matanya dengan malas? Hey yongjin selalu tersenyum saat bertemu dengan daehan mengapa sekarang ia murung? Apa karena kejadian tadi? Daehan tahu ia sudah keterlaluan tapi itu sudah diambang batasnya karena yongjin dengan sengaja tak memberi kabar apapun padanya yang membuat daehan panic setengah mati.

 

“aku sudah mendengar semuanya dari temanmu itu, kim taeyeon? Sejak kapan kau dekat dengannya? Kau tak pernah menceritakan apapun padaku, bukankah dia hanya partner kerjamu?“ tanya daehan bahkan yongjinpun belum sepenuhnya duduk dikursi dan masih menyimpan tasnya

“Jauhi Kim Taeyeon, dia berpengaruh buruk padamu.” jelas daehan bukan meminta tapi itu seperti kata perintah dan tak ada yang bisa menolak kemauan Song daehan namun seseorang yang ada di depan daehan hanya diam tanpa memandang daehan.

Tak ada yang tak mungkin bagi daehan karena rumah sakit tempat kerja yongjin adalah milik temannya dan juga ia memiliki saham 30% jadi ia bisa leluasa mengintrogasi semua yankes termasuk mengintrogasi kim taeyeon.

 

“wae?” akhirnya yongjin bersuara setelah keheningan yang lumayan lama

 

“kau berubah” lirih daehan putus asa

 

“aniya, aku tak bisa menjauhi taeyeon eonni dan aku tak berubah Itu mungkin hanya perasaanmu saja deaehan-a” suara yongjin kaku dan itu tertangkap dengan jelas oleh daehan dengan sekejap tangan dehan sudah berada didagu yongjin dan mengangkatnya agar memandang wajah daehan dalam kedekatan kurang dari 5cm

 

“turuti saja perintahku lee yongjin, jauhi dia. aku tak suka padanya” suara daehan memberat dan yongjin tau bahwa itu adalah tahap daehan menahan amarahnya

 

“kenapa aku harus selalu menuruti perintahmu? Song daehan, apa kau sadar kau telah melewati batas? Aku berteman dengan taeyeon karena aku nyaman dengannya, dan begitu juga dengan kita. Aku pikir kau tak punya hak untuk mengatur dengan siapa aku berteman. Selama aku nyaman dengannya bukankah tak masalah?” Tutur yongjin dengan mata yang sinis menatap daehan

 

“lee yongjin” geram daehan makin mendekatkan wajah mereka bahkan jika diambil dari angel yang berbeda orang lain akan salah paham dan menganggap mereka sedang berciuman ditempat umum

 

“aku belum selesai daehan-a, mulai sekarang tolong berhenti mengatur hidupku. Aku sudah 27 tahun, dan kurasa aku sudah cukup dewasa sekarang. Aku dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk untukku sendiri kalau aku menemukan orang yang salah dan terluka aku akan menanggungnya sendiri. Mulai sekarang kau hanya perlu mengurus urusanmu sendiri.” Kata yongjin dengan lancar mengatakan hal yang selama ini ia pendam dan sekarang semuanya keluar begitu saja tanpa pikir panjang

 

“kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu? Apa aku melakukan kesalahan?kalau begitu aku minta maaf dan takkan ku ulangi lagi. Puas?” kata daehan datar tanpa konotasi apapun dan melepaskan pegangan pada dagu yongjin

 

“kau pikir perkataanku tadi lelucon? Kau tau kan sekarang aku tak berniat untuk bercanda. Aku mohon mulai sekarang jangan terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadiku.” Jelas yongjin dan segera beranjak dari tempat itu

 

“daehan oppa annyeong!” yongjin menoleh ketika ada suara wanita bersuara nyaring mendekat ke mejanya ”sialan wanita ini lagi” batin yongjin, “Jion-a” gumam dehan shock

 

“eoh? Oppa nugueyo? Sekretarismu?” ucap haera dengan kesan merendahkan

 

“Daehan-a aku ada janji aku harus pergi sekarang. Khalke” ucap yongjin dengan malas dan dengan cepat ia meninggalkan café tanpa melihat daehan yang sedang melihat kepergiannya yang begitu saja. Tak tahu mengapa yongjin merasakan panas didadanya ia terlalu lelah untuk berpura-pura tegar bahkan sekarang ia ingin menangis

 

“oppa kita sering bertemu secara tak sengaja seperti ini, sepertinya kita sudah ditakdirkan. Iya kan?” kata jion dengan jurus genitnya dan mengaitkan lengannya pada daehan namun daehan tetap diam dan melihat kearah luar café ‘yoong-a waeire?’ batin daehan

 

 

 

——————————at blue’s café——————————————

 

Dengan langkah yang tergesa-gesa yongjin memasuki café yang minimalis itu. Dan setelah memasuki café nya ia melihat ke sekeliling ruangan mencoba meneliti orang satu-persatu

 

“ada yang bisa saya bantu nona?” kata seorang wanita yang memakai seragam-waiters-

 

“oh apa ada meja pesanan atas nama Lee hana?”

 

“silakan sebelah sini” yongjin mengikuti langkah waiters tadi dengan sedikit membereskan rambutnya yang sedikit berantakan karena berlari “disini tempatnya nona, sudah ada yang menunggu anda dan jika anda butuh sesuatu anda boleh memanggil saya” tutur waiters itu dengan lembut

 

“nde, gamsahamnida” yongjin membungkukkan badannya dan membuka pintu dengan cara menggeser dan BANG!

 

“Sunbae!” seru yongjin dengna mulut membentuk huruf O

 

“Anyyeong Lee Yongjin” senyum pria itu mengembang dan melambaikan tangannya seolah menyuruh yongjin masuk dan bagaikan terkena sihir yongjinpun masuk dan duduk dihadapan pria itu dengan mata yang masih membulat dan mulut masih menganga

 

“ya! Lee yongjin begitu senang kah kau melihatku sampai-sampai tak bisa mengontrol ekspresi wajahmu?” goda pria itu dan berhasil membuat yongjin sadar dan mngerucutkan bibirnya dan makin membuat pria itu gemas dan menyubit pipi yongjin yang tirus

 

“Yoong mengapa pipimu tak gembil seperti dulu? Lihatlah badanmu yang kuru situ membuatku khawatir. Apakah kau makan dengan baik? Apa Song Daehan-mu tak menjagamu lagi?” tutur pria itu dan mulai menurunkan tangannya di pipi yongjin dan mengusap-usap tangannya

 

“cha! Ayo kita makan sebelum dingin karena sudah lebih dari 30 menit makanan ini menunggumu untuk menyantapnya” dengan lahap yongjin menyantap makanan didepannya dan mencuri pandang pada kim hanbin yang ada didepannya karena pria itu selalu melihat kearah yongjin sambil menyunggingkan senyuman manisnya.

 

“sunbae aku tak bisa makan dengan tenang jika kau terus melihatku dengan senyuman bodohmu itu” ucap yongjin yang aneh melihat hanbin yang selalu memandangnya

 

“wae? Kau gugup? Bagaimana ya? bahkan aku sudah merencanakan akan selalu melihatmu seperti saat kita sudah menikah nanti” dan kata-kata itu berhasil membuat yongjin tersedak makanan yang seadang dikunyahnya. Dengan cakatan hanbin memberikan air putih pada yongjin dan langsung diterima yongjin

“aigoo hati-hati young” dan yang membaut yongjin membeku ditempatnya adalah hanbin yang membersihkan wajahnya dengan tangannya sendiri tanpa tissue

 

“sunbae apakah  menetap di Jepang membuatmu tidak waras?” yongjin menatap hanbin dengan serius dan menyimpan sendok serta garpunya

 

“wae?”

 

“Kau bukan seperti hanbin sunbae yang kukenal.” Tutur yongjin dengan mata yang meneliti hanbin seolah hanbin adalah alien yang berasal dari planet lain

 

“memang kim hanbin yang kau kenal seperti apa?” kata hanbin dengan wajah yang penasaran

 

“sunbae selalu menggangguku, selalu menjahiliku, selalu membuatku kesal. Dia takkan berhenti sampai aku marah padanya. Dan sekarang kau menjadi seperti ini tentu saja aku terkejut, kau bukan hanbin sunbae kan?” cerca yongjin sambil menunjuk pada hanbin

 

“begitukah aku dimatamu? Ya aku akui dulu memang aku selalu mengganggumu karena aku tak punya pilihan lain karena kau dilindungi oleh pengawalmu dan aku suka saat matamu yang melebar karena marah dan itu sangat cantik dimataku.”

 

“sunbae kau menakutiku”

 

“aku tak bercanda lee yongjin, aku menyukaimu saat pertama kali melihat kau melewati kelasku dengan teman-temanmu namun saat aku akan mendekatimu kulihat kau sangat akrab dengan pengawalmu yang menyeramkan itu dan semua orang bergosip bahwa kau pacarnya, disitu aku putus harapan tapi dengan cara menjahilimu dan mengganggumu kau mulai menganggapku ada dan aku hanya punya cara itu untuk mendekatimu dan melihat wajahmu secara dekat. Aku tak ada pilihan lain, aku tahu aku pengecut dengan meminta ayahku menjodohkanku denganmu tapi aku yakin aku bisa membahagiakanmu young. Kau dan Daehan hanya berteman kan? Berarti tak ada penghalang unntuk kita bersatu. Kau akan menerimaku kan? Setidaknya kau dijodohkan dengan orang sudah kau kenal. Bukankah itu menguntungkan? Dimana lagi kau akan menemukan dokter super tampan sepertiku” jelas hanbin dengan gaya bicara seorang ‘Flower boy’-nya

 

Yongjin hanya menanggapinya dengan senyuman dan tak lama kemudian seorang waiters datang membawa dessert.

 

 

——————————————————At Lee’s Family House——————————————————–

 

“lee yongjin, yongjin-ah ireona kita sudah sampai” ucap hanbin sambil mengusap-usapkan tangannya di pipi bayi yongjin dan saat yongjin mengerjapkan-ngerjap matanya hanbin tersenyum makin lebar

 

“sebenarnya aku ingin lebih lama bersamamu tapi aku sudah berjanji pada Tuan Lee harus mengembalikanmu tepat waktu.” Namun yongjin tak mencerna dengan baik perkataan hanbin karena separuh ruh nya belum kembali, yongjin terus mengucek-ucek matanya seperti tak mau bangun dan disalah artikan oleh hanbin.

 

Hanbin memegang tangan yongjin dan melebarkan kelopak mata yongjin lalu meniupnya. “YA! APA YANG KAU LAKUKAN?” yongjin berteriak lumayan kencang sampai anjing peliharaannya menggonggong

 

“kau kellilipan dan aku hanya membantu meniup matamu” hanbin berkata seperti orang yang polos dan yongjin gelagapan sendiri melihat hanbin dengan jarak sedekat itu

 

“ah sudahlah aku lelah, aku akan langsung masuk.” Kata yongjin canggung dan saat melihat hanbin akan membuka pintu mobilnya “kau tak perlu mengantarku masuk mungkin keluargaku sudah terlelap semua. Akan kusampaikan salammu pada mereka.” Mendengar perkataan yongjin hanbin menurunkan pegangannya dan menyentuh atas kepala yongjin lalu mengusap-usapnya

 

“yasudah kau masuk dan istirahat,annyeong” ucap hanbin dengan senyuman canggungnya

 

“annyeong sunbae, hati-hati menyetirnya” setelah menutup pintu mobil hanbin yongjin melambaikan tangannya sebentar dan langsung memencet password rumahnya dan langsung masuk dan tanpa menoleh kebelakang.

 

“ini yang terbaik lee yongjin, kau harus mulai membuka hatimu untuk pria yang sudah jelas mencintaimu. Ya, kau bisa menggunakan cara ini untuk melupakan daehan. Tapi, mengapa hatiku berkata yang sebaliknya. Aarrgghhh aku bisa gila” batin yongjin

 

 

Dan setelah hari itu yongjin baru tahu jika kim hanbin ditugaskan di rumah sakit yang sama sejak 2 bulan yang lalu, dan hubungan mereka mengalir begitu saja. Dengan perhatian dan cinta yang ditunjukan hanbin, yongjin perlahan melupakan daehan, meskipun sangat sulit dengan beribu alasan yongjin tak mau bertemu dengan daehan dan yongjin menyembunyikan perjodohannya dengan hanbin baik.

 

Bahkan 2 minggu lagi acara tunangan yongjin dan hanbin akan dilaksanakan di hotel bintang lima. Dan tentu saja berita itu menyebar dengan cepat di rumah sakit bagaikan virus, termasuk song Minguk yang menjabat direktur Medical International Hospital.

 

 

 

—————————————————————At Song’s corp—————————————————-

 

“Hyung annyeong”  ucap Minguk yang masuk setelah mengetuk pintu dan berjalan menuju meja CEO

 

“oh Minguk-a kau datang?” ucap daehan yang masih betah melihat dokumen dokumen yang bertumpuk didepannya

 

“em, aku sedang off, tapi sepertinya pekerjaanmu tak pernah surut hyung” Minguk mengambil sebuah kertas diatas meja daehan membacanya sebentar dan meletakkannya kembali

 

“ya begitulah. Bicaralah, kau datang kesini pasti ada sesuatu yang penting.”

 

“whoa hyung kau memang sangat peka, tapi apa kau tak mau menyuruhku untuk duduk? Dan bisakah kau palingkan wajahmu untuk melihatku sebentar saja? Pantas saja yongjin noona memilih untuk menikah dengan orang lain dan meninggalkanmu” Minguk terkekeh

 

“apa kau bicarakan?” daehan langsung memalingkan wajahnya dan menatap Minguk yang sudah duduk di sofanya

 

“whoa! Kau belum tahu hyung? Yongjin noona dijodohkan dan mungkin sebentar lagi akan menikah” Minguk terdiam “sepertinya daehan hyung belum tau ya? Aku jadi tak enak seharusnya kau tau dari mulut yong noona.”

 

“Aku sedang tak ingin bercanda Minguk-a” daehan menatap Minguk dengan wajah seriusnya

 

“kau benar-benar belum tahu hyung? Jinjja! aku sudah menanyakannya pada yongjin noona, dia hanya tersenyum dan mengangguk.” ucap Minguk sungguh-sungguh “hyung mau kemana? Aku kesini untuk membicarakan sesuatu denganmu!” teriakkan Minguk itu tak berarti apa-apa bagaikan angin yang berlalu karena pikiran daehan sudah pada wanita yang selalu menyita waktunya

 

 

“sialan dia benar-benar ingin bermain-main denganku, dia benar-benar memanfaatkan waktu sibukku dengan baik” gumam daehan keluar dengan membawa jasnya dengan langkah seribu ia keluar dari kantornya dan kalian pasti sudah tahu ia akan menemui siapa kan?

 

Song Daehan benar-benar kalut, ia tak bisa menemukan yongjin dimana pun. Rumah sakit, tempat tinggalnya, apartementnya, apartement yura, apartement taeyeon, bahkan tempat-tempat favorit yongjin, dan yang lebih parahnya lagi handphone yongjin tidak aktif. Yang daehan tahu hari ini yongjin libur dan sedang keluar rumah. Hari sudah gelap namun yongjin masih belum kembali, sedari tadi daehan terus menatap halaman rumah yongjin dan tak ada tanda yongjin sudah pulang.

 

 “Sebenarnya kau pergi kemana yongie” batin daehan

 

 

Suara mobil membangunkannya dan saat daehan membiasakan cahaya masuk ke retinanya mobil itu berhenti disebrangnya dan melihat yongjin sedang memegang tangan pria ‘itu’ dan ‘brengsek, kim hanbin’ batin dahean daehan mengalihkan pandangannya karena jika ia bertekad untuk melihatnya mungkin pria yang sedang bersama yongjin akan berakhir di rumah sakit, ia segera meraih smartphone-nya dan memencet speed dial.

 

 

“Chief Kang, sekarang” Daehan menutup telfonnya dan dan malah melihat dua sijoli sedang berpelukan dengan erat ia bersumpah akan membuat pria yang sudah menyentuh ‘gadis-nya’ itu menyesal seumur hidupnya.

 

 

————————–at Song corp————————–

 

Lee yongjin masuk dengan amarah yang belum ia perlihatkan pada daehan atau siapapun dan dibelakang yongjin ada sekretaris daehan yang meminta maaf pada daehan karena tak bisa menahan nona lee yongjin yang memaksa masuk, saat daehan menganggukan wajahnya sekretaris jung seakan tersihir dan langsung keluar lalu menutup pintunya.

 

Sepertinya sekretaris itu akan diceramahi daehan setelah ini karena berani memegang tangan dan mencegah lee yongjin masuk keruangannya. Semoga daehan memaafkan kesalahan sekretaris itu karena ia baru bekerja satu minggu ini

 

Disinilah Song Daehan dan Lee yongjin bertatap muka setelah dua minggu tak bertemu, sebenarnya ini rekor terlama untuk keduanya yang tak saling bertemu selama 13 tahun mereka bersama. Seakan ada yang menghalangi mereka untuk berbicara karena setelah 5 menit yang mereka lakukan hanya menatap masing-masing dengan rindu(?) ya, mungkin daehan rindu dengan yongjin tapi yongjin benar-benar marah saat ini lihat saja tatapan tajamnya bisa membuat bulu kudukmu berdiri sempurna.

 

 

“Kau yang melakukannya kan?” dengan menghentakkan kakinya dan sedikit menggebrak meja daehan

 

“Eorinmanita Lee yongjin” suara rendah daehan terdengar seperti ejekan di telinga yongjin, sontak hal itu membuat yongjin melebarkan matanya dan mengaga

 

“kau yang melakukannya kan? HAH?” yongjin terlalu mengenal song daehan-nya ia hafal betul jika daehan seperti ini berarti… “Sebenarnya apa yang kau inginkan Song daehan?!” ucap yongjin dengan penuh penekanan “apa yang telah kau lakukan pada hanbin oppa?!”

 

“eoh? Kau sudah memanggilnya oppa sekarang? Hubungan kalian pastilah sudah sangat dekat, iyakan?” daehan menunjukan evil smile-nya dan menaikkan sebelah alisnya

 

“cepat beritahu aku apa yang kau lakukan pada keluarga kim hingga mereka tiba-tiba pindah tanpa jejak!” teriak yongjin menggema

 

“lebih baik aku hanya memintanya pindah atau kau ingin aku langsung melenyapkannya dibumi ini saja?” daehan bangun dari kursinya dan berjalan mendekati yongjin yang sudah diambang kesabarannya

 

“MWO?!” daehan terus mendekat dan mengikis jarak diantara meraka

 

“itu akibatnya jika kau bermain dibelakangku lee yongjin. Saat aku di London selama dua minggu kau menghabiskan waktumu dengan si brengsek itu, bahkan kau berbohong padaku kau sedang sibuk pekerjaanmu untuk menghindariku.” Ucap daehan dengan lembut sambil menyelipkan rambut yongjin kebelakang telinganya dan melihat sesuatu yang aneh dileher yongjin daehan memalingkan wajahnya dan menyatukan giginya yang membuat rahang daehan menjadi sangat jelas

 

“Seberapa jauh kau bermain dengannya?” dengan sebelah tangannya daehan menangkup wajah yongjin dan menengadahkannya mendekat. Ya, itu kebiasaan song daehan jika sedang marah dan ingin melihat mata yongjin lebih dekat.

 

“wae? Seberapa jauh aku bermain dengannya tak ada sangkut pautnya denganmu song daehan-ssi.” Daehan selalu mengingatkan yongjin untuk tak memanggil nama lengkapnya, dan kali ini yongjin melakukannya daehan tak bisa menahan dirinya untuk mengeluarkan amarah yang sudah dipendamnya

 

“LEE YONGJIN! AKU BERKATA SEBERAPA JAUH KAU BERMAIN DENGANNYA?!” dengan berani yongjin melepaskan tangan daehan yang berada diwajahnya saat daehan lengah, setelah mengumpulkan keberaniannya yongjin menatap daehan dengan garang

 

“ITU BUKAN URUSANMU! BEHENTI KEKANAKAN SONG DAEHAN JIKA KITA BENAR-BENAR BERTEMAN ITU ARTINYA AKU BOLEH BERKENCAN DENGAN PRIA LAIN DAN KAU JUGA BOLEH BERKENCAN DENGAN WANITA LAIN! JADI BERHENTILAH MENCAMPURI HUBUNGANKU! ATAU AKU AKAN BENAR-BENAR MEMBENCIMU!” Yongjin melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dari ruangan itu dengan amarahnya yang tak terkendali ia takut tak bisa mengendalikannya didepan song daehan, ia tak boleh menangis dan terlihat seperti wanita cengeng

 

“kau menyukainya?” lirih daehan bagaikan angin yang berhembus jika saja yongjin tak memiliki pendengaran yang bagus ia takkan mendengar perkataan itu

 

“eoh, hanbin oppa, aku … aku mulai menyukainya. Jadi, jangan mengganggunya atau aku akan membencimu.” bagaikan disambar petir disiang bolong daehan hanya bisa diam dan menatap kosong yongjin yang entah bagaimana caranya bisa melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.

 

Dengan gerak cepat daehan menyusul yongjin yang sudah berada di lobby dan saat daehan berhasil menggapai lengan yongjin dan dengan sekuat tenaga yongjin menghempaskan tangannya seolah daehan mempunyai penyakit menular yang berbahaya.

 

Namun seperti sudah takdir kekuatan pria tentu saja lebih dari pada wanita, dan itu juga berlaku pada daehan dan yongjin. Dengan mata yang saling memandang daehan melihat yongjin dengan tatapan yang masih kalut dan merasa tak terima dengan pernyataan yongjin yang menyukai kim hanbin, ia merasa yongjin sedang berselingkuh dibelakang dengan terang-terangan.

 

Setelah daehan memaku yongjin dengan tatapan –putus asa- nya daehan menyeret yongjin keluar perusahaannya dengan sedikit kasar karena yongjin terus saja meronta dan berteriak

“Lepaskan song daehan-ssi” mendengar kata itu lagi tanpa terasa daehan meremas lengan yongjin dan itu berhasil membuat yongjin mengerang

 

“Appayo hiks” yongjin sudah tak bisa menahan tangisnya, yongjin tak tahu ia menangis karena memikirkan hanbin atau karena daehan yang berlaku kasar padanya.

 

Dan itu tentu saja menjadi tontonan gratis para pegawai karena CEO-nya membuat seluruh pegawai terpaku dengan perbuatannya barusan. Hal yang lumrah jika Song Daehan berlaku kasar dan tegas pada pegawai-nya tapi ini sungguh kejadian luar biasa karena Daehan berlaku kasar pada Lee Yongjin yang biasanya diperlakukan sebagai putri oleh daehan, dan bukan rahasia lagi jika mereka sebenarnya tahu hubungan daehan dan yongjin yang rumit.

 

 

————————————————Daehan’s Apartement———————————————————

 

Akhirnya disinilah mereka, tak ada satu patah katapun yang terucap dari mulut keduanya. Bagaikan patung yongjin hanya diam duduk di sofa dengan pandangan yang kosong dan memainkan jarinya dan sesekali mengusap tangan bekas cengkraman daehan yang membekas merah, dan song daehan?

 

Yang daehan lakukan hanya memandangi yongjin yang terdiam sejak ia bawa ke apartemen ini, daehan memandang yongjin dengan tatapan rindu, marah, kecewa, dan memuja(?).

 

Seperti kaset yang terputar, yongjin melihat kenangan dirinya sendiri dan daehan berjalan dipikirannya. Ya, mungkin yongjin bertekad untuk melupakan daehan dengan menerima perjodohan itu tapi lihatlah sekarang, lagi dan lagi ia berakhir dengan daehan disebelahnya.

 

Sudah ia lakukan semua usahanya menghindari song daehan dan tak terhitung ia memaki dirinya sendiri karena mengkhiananti perkataanya sendiri, ia terlihat baik-baik saja tapi jauh dilibuk hati yongjin ia kehilangan sesuatu yang tak dimengertinya seperti puzzle yang kehilangan satu keeping ia merasa hampa tanpa kehadiran daehan.

 

Ia tak mengerti dengan semuanya, mengapa melupakan seorang song daehan begitu mustahil untuknya? Bukankah ia juga berhak bahagia? Ia tak mau menjadi wanita bodoh yang terus terjerumus dilubang yang sama.

Ia sudah mencoba membuka hatinya untuk kim hanbin dan saat ia sudah mulai meyakinkan dirinya bahwa hanbin adalah orang yang tepat untuknya, dan mengalihkan semua perhatiannya pada hanbin mencoba mengenal hanbin dengan sepenuh hati, meski ia sering diterror dengan kehadiran dehan dimana-mana. Ia berhasil, dengan sikap tulus hanbin ia merasa seperti wanita yang diinginkan dan dicintai dengan cara yang benar tak sulit untuk jatuh pada pesona kim hanbin.

 

Namun pada akhinya ia selalu kecewa, Hanbin pergi dengan alasan yang tak masuk akal, bahkan kemarin hanbin masih bertemu dengannya di rumah sakit tapi betapa shock-nya ia tadi pagi saat mendnegar hanbin mengundurkan diri dirumah sakit dan menghilang tanpa kabar, saat yongjin mencoba menghubunginya nomer hanbin sudah tak aktif.

 

Yongjin mencoba meminta ayahnya menanyakan pada tuan kim namun yongjin mendapatkan kabar yang membuat seakan jantungnya sudah tak berfungsi dengan baik, keluarga kim pindah dan tak diketahui siapapun bahkan tetangga ataupun rekan kerja keluarga kim taka da yang tahu. Siapapun beritahu yongjin jika itu bohong, bagaimana bisa keluarga kim hilang disaat pertunangannya akan diselenggarakan kurang dari 2 minggu lagi.

 

Setelah menenangkan pikiran Yongjin mencium kejanggalan ini langsung memikirkan seseorang yang sangat mungkin menyababkan hal ini terjadi-song daehan-. Sebenarnya apa yang dengan inginkan?

 

“Sebenarnya apa yang kau inginkan song daehan?” tanya yongjin dengan putus asa dan memandang daehan tepat dimatanya bagaimanapun yongjin sudah sangat menganal daehan dan tak bisa lama marah pada daehan dan ia mengambil cara dengan bicara baik-baik untuk menyelesaikan masalahnya, hal itu membuat daehan gelagapan dan sedikit salah tingkah, daehan membenarkan posisi duduknya dan berdehem

 

“itu semua salahmu, mengapa kau membohongiku dan berkencan ah ani kau akan menikah dengan pria brengsek itu.” Tutur daehan sinis dengan penekanan yang berirama, yongjin sungguh tak mengerti mengapa ia seperti tersangka yang melakukan kesalahan disini seharusnya ia yang marah pada daehan

 

“bisakah kau berhenti menyebut semua pria yang dekat denganku brengsek? Kau bahkan tak mengenalnya dengan baik, Hanbin oppa itu orang baik ia tak brengsek.” Daehan menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya dengan rahang yang mengeras ia menahan sesuatu yang akan meledak didalam dirinya  saat yongjin menceritakan pria lain ia tak tahu mengapa hatinya seperti terbakar tak terima bahwa ada pria lain yang diperhatikan yongjin-nya

 

“kita bukan anak kecil lagi daehan-a Jadi, berhentilah mencemaskanku berlebihan aku tahu aku tak pandai merawat diri sendiri dengan baik dan aku yakin kau tahu betul tentang itu.” daehan menatap yongjin dengan seksama seakan menanyakan ‘lalu apa yang ingin kau lakukan?’ namun tetap dengan tatapan mengintimidasi khas-nya

 

Sungguh yongjin sudah tak sanggup untuk memendamnya lebih lama lagi, seakan ada bom waktu didalam diri yongjin yang bisa meledak kapan saja. Ia sudah terlalu lelah dengan permainan ini, ia sudah tak bisa menerima label teman rasa kekasih ini, ia juga ingin diakui ingin dimiliki dan dianggap berharga. Selama ini ia memendam semuanya demi egonya sendiri namun setelah semua yang dilaluinya ia menyerah. Ia harus meminta penjelasan kenapa daehan melakukan semua ini.

 

“Bertindaklah gentleman song daehan. Bukankah selama ini kita hanya berteman? Seharusnya kau memberiku selamat dan ikut berbahagia denganku.” Yongjin mengutarakannya dengan panjang lebar namun yang didapatkannya hanya wajah daehan yang datar dan tak mengatakan satu patah kata apapun.

 

Demi apapun sekarang yongjin merasakan sakit yang luar biasa didadanya seperti jantung yang digunakannya untuk hidup dilemparkan seseorang ke sungai han, ia merasa sesak dan air matanya seperti memaksa untuk keluar. Song daehan kini berada didepannya yang yongjin yakin daehan mendengar apa yang baru ia katakan tapi responnya diluar perkiraannya.

 

“Aku benar-benar tak tahu mengapa kau bertindak sejauh ini. Apa kau mencemaskanku atau karena … kau mencintaiku?” Sekarang ia mengerti apa yang harus dilakukannya, dengan diamnya daehan ia mengerti bahwa namja itu hanya mempermainkannya selama ini. Perhatiannya, perbuatannnya selama ini hanya untuk mempermainkan lee yongjin ya Lancang sekali ia mengira daehan mencintainya.

 

“kau memang bodoh lee yongjin, kau berhasil membuat harga dirimu jatuh ke dasar laut yang paling dalam. Kau sama saja dengan wanita murahan yang mengemis cinta pada song daehan, bagaimana bisa kau terlihat menyedihkan seperti ini.” Batin yongjin

 

“ah maaf sepertinya pikiranku sedang kacau dan berkata melantur seperti ini.” Yongijn segera mengalihkan pandangannya saat ia menyadari air matanya meluncur, dengan cepat ia menghapusnya dan segera berdiri. Dengan berjalan setengah berlari yongjin menuju pintu keluar apartement ini

 

“Kau mau kemana Lee yongjin!” daehan berteriak setelah menyadari yongjin tak berada didepannya lagi

 

“akuu ingin pulang” lirih yongjin yang sibuk menghapus air matanya yang  dengan lancangnya terus mengalir namun saat yongjin akan menyentuh knop pintu ia merasakan ada tangan yang menariknya masuk kembali “Kita makan malam dulu, kau belum makan sejak siang tadi” demi apa daehan dengan tenangnya menyuruhnya makan malam saat hati yongjin tengah berantakan dan wajah yongjin jelas menunjukan bahwa wanita itu sedang sedih-lebih tepatnya patah hati-dan yang parahnya itu ulahnya

 

“aku tak berselera” yongjin berusaha melepaskan cengkraman daehan yang menyakiti tangannya menyadari daehan tak kunjung melepaskan cengkramannya yongjin menengadahkan wajahnya dan rasa sakit kembali menyerangnya saat melihat wajah daehan

 

“kau bisa sakit, makanlah dulu setelah itu akan kuantarkan pulang.” Titah daehan mutlak. Mungkin jika dulu dengan senang hati yongjin menuruti perintah daehan tapi tidak sekarang setelah yongjin tahu perasaan daehan yang sebenarnya ia tak mau terus berada disekitar song daehan, itu menambah sakit hatinya. Yongjin tak bisa berfikir jernih sekarang, banyak pikiran yang melintas dikepalanya.

 

“aku sakit atau tidak itu sama sekali bukan urusanmu tuan song, jadi lepaskan ini aku ingin pulang.” Dengan sekuat tenaga yongjin berusaha melepaskan cengkraman itu namun nihil. Yang ia dapatkan hanya cengkraman daehan yang menguat dan itu semakin menyakitinya

 

“Sakit daehan-ssi!?” yongjin muak ia sungguh tak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang yang ia mau hanya keluar dari sekitar daehan “aku tak mau makan malam denganmu song daehan, Sekarang lepaskan aku” namun seperti tak mendengar yongjin daehan tetap menyeret yongjin duduk dimeja makan dan ia menuju dapur untuk menyiapkan makan malam-seperti biasanya- melihat itu yongjin menggila karena disini hanya yongjin bertindak seperti orang bodoh ia sungguh memalukan. Yongjin menggapai semua barang yang didekatnya dan meleparkannya sembarang arah.

 

“KAU BENAR BENAR EGOIS SONG DAEHAN! KAU MAU AKU BERADA DIJARAK PANDANGMU TAPI TAK PERNAH MENCINTAIKU! KAU MENGATUR SEMUA KEHIDUPANKU TANPA MENANYAKAN PENDAPATKU, SEBENARNYA APA YANG KAU INGINKAN DARIKU?! JIKA KAU MEMBUTUHKAN WANITA YANG SELALU MEMATUHI PERINTAHMU KENAPA KAU TAK MENYEWA PELACUR SAJA SEPERTI WAKTU ITU! AKU BUKAN WANITA YANG DENGAN GAMPANG KAU MAINKAN, CUKUP SAMPAI DISINI. AKU BENAR-BENAR LELAH DENGAN SEMUA INI, AKU MENYERAH. AKU MEMBENCIMU SONG DAEHAN-SSI” yongjin berteriak dengan air mata bercucuran biarlah ia terlihat seperti orang yang menyedihkan toh setelah ini ia akan pergi dari kehidupan song daehan.

 

Dengan langkah yang gusar yongjin keluar dari apartement sialan itu, meskipun terdengar suara daehan yang berteriak memanggilnya yongjin sengaja menulikan telinganya karena sungguh ia ingin sendiri sekarang jika seseorang melihatnya ia akan menjadi wanita yang menyedihkan.

 

Ya, wanita mana yang tak menyedihkan karena sudah ditolak oleh sahabatnya sendiri, ia malu bahkan yongjin berfikir untuk mengubur dirinya atau mungkin menenggelamkan dirinya di sungai han. Yongjin tengah menunggu lift berdenting namun ia melihat sosok daehan mendekatinya, refleks yongjin berlari menggunakan tangga darurat karena ia sudah tak punya muka untuk memandang song daehan.

 

Yongjin sudah berusaha menghindari daehan dengan menuruni tangga sekuat tenaga, namun salahkan kakinya yang tak ia gunakan untuk olahraga kakinya pegal dan seperti terbang diudara ia tanpa terasa ia jatuh dan terguling namun mendengar suara daehan mendekat ia kembali menuruni tangga dengan langkah yang pincang.

 

Yongjin sudah tak peduli kakinya lebam dan sepertinya terkilir karena yang ia pikirkan ia tak mau terjebak didalam apartement daehan. Dengan apa yang telah dilakukannya yongjin tahu jika daehan akan marah besar, song daehan tak suka dibantah.

 

Yongjin merasakan punggungnya membentur tembok yang ada disampingnya, ya kalian pasti tahu siapa yang melakukannya, song daehan berhasil menangkap lee yongjin-nya dengan nafas yang memburu daehan tetap pada posisinya yang bahkan hidung mereka hampir bersentuhan. Namun dengan pantang menyerah yongjin berusaha melepaskan cengkraman daehan namun perlawanan yongjin tak membuat daehan bergerak sedikitpun, yongjin menghela nafasnya dan memandang wajah itu-lagi-ia tak mengerti mengapa wajah daehan seperti orang yang marah karena orang yang berhak marah disini adalah dirinya, bukankah ia telah ditolak mengapa daehan mengejarnya seperti orang gila?

Mungkinkah ia merasa bersalah atau kasihan(?)

 

“Lepas daehan-ssi” yongjin mengatakan dengan intonasi rendah yang sering daehan gunakan jika ia marah dan entah mengapa daehan sangat membenci jika yongjin mengucapkan namanya dengan asing seperti itu.

 

“Diamlah dan turuti aku” titah daehan mutlak dan saat daehan membalikkan badannya kesempatan itu dimanfaatkan yongjin itu melepaskan cengkraman daehan

 

“Berhentilah egois song daehan-ssi, kau tak mencintaku kau sudah menolakku tidakkah kau lihat aku sedang sedih dan malu? Biarkan aku pergi, aku sudah tak ingin bertemu denganmu” seperti tak mendegar perkataan yang baru yongjin katakana daehan tetap menggapai tangan yongjin dan menuntunnya keluar tangga darurat itu namun respon yang yongjin berikan sungguh diluar perkiraan daehan

 

“JANGAN MENYENTUHKU!” Saat yongjin akan mendahului daehan keluar dengan emosi yang sudah diujung kesabarannya daehan memojokkan yongjin pada sudut ruangan dan menyatukan bibirnya dengan bibir yongjin dengan tergesa-gesa daehan melumat bibir yongjin yang tak kunjung dibuka meski ia sudah menahan tengkuk dan rahang yongjin agar yongjin tak bisa melawan saat yongjin menjauhkan wajahnya ia menampar daehan dengan keras sampai daehan memalingkan wajahnya, daehan tak mempedulikan air mata yang keluar dari mata yongjin yang daehan pikirkan hanya bagaimana cara untuk tak kehilangan yongjin.

 

Putus asa, daehan menyeret yongjin kembali ke apartementnya dan disepanjang jalan ia tak memperdulikan seluruh pasang mata yang memandangnya aneh dan mengutuknya karena menyeret wanita cantik yang sedang menangis dengan cara yang sedikit tak manusiawi.

 

Setelah sampai di apartementnya ia langsung membawa yongjin ke kamarnya, dengan rasa takut yang membuncah yongjin memundurkan langkahnya dan daehan melangkahkan kakinya mendekati yongjin. Namun seolah buta daehan tak melihat itu, yang ia ingat hanya kata-kata yongjin yang ingin pergi darinya dan memintanya untuk tak menyentuhnya, daehan sendiri tak tahu apa yang terjadi padanya, apa yang ia rasakan terhadap yongjin itu adalah cinta?

 

Bila rasa khawatir, sedih, senang, tak ingin seorangpun menyentuh apalagi menyakiti yongjin-nya itu dideskripsikan dengan cinta, ya daehan mencintai yongjin karena dihatinya yongjin sudah setara pentingnya dengan kedua adiknya bahkan lebih. Tapi satu hal ketakutan terbesar daehan, ia takut jika ia sudah terlanjur memberikan hatinya orang itu pergi membawa hatinya dan tak kembali seperti orangtuanya.

 

Ya, Trauma song daehan belum sepenuhnya pulih sejak kecelakaan itu dan taka da satupun orang yang tahu. Selama ini tak pernah ada orang yang mengatakan mencintainya dengan tulus, bahkan orangtua kandungnya pun terlalu sibuk mencintai adik-adiknya sampai ia terlupakan. Yongjin? Dia hanya wanita dan tak bisa mengatakan itu pertama.

 

“Berhenti! Jangan mendekatiku.” Yongjin memberanikan dirinya dan terus mundur sampai ia terjebak diujung ruangan yang menjadi perangkapnya sendiri namun seakan tuli daehan tetap berjalan kearahnnya, ia menaikkan dagu yongjin sampai terlihat wajah yongjin yang tersiksa(?) dengan make-up yang luntur karena tangisannya tak mengurangi kecantikan yongjin sedikitpun tapi tak tahu mengapa hati daehan sakit saat melihat melihat yongjin-nya seperti ini tak pernah terbayang jika ia yang membuat yongjin-nya menangis dan menderita seperti ini tapi mengapa ia sangat susah sekali mengatakan bahwa ia mencintainya?

 

“Berhenti memperlakukanku seperti pelacurmu song daehan-ssi”

 

“Bisakah kau tak memanggilku seperti itu? Kau tahu benar jika aku membenci jika kata itu keluar dari mulutmu ini” tangan daehan yang tadinya memegang dagu yongjin ia gunakan untuk mengusap bibir yongjin yang memerah akibat ciumannnya tadi, ia sedikit merasa bersalah tapi ada sisi kebanggaan juga karena itu tanda bahwa yongjin miliknya

 

“Aku tak tahu aku sudah mengatakan ini untuk ke berapa kali tapi aku benar benar sudah muak padamu, aku tak bisa disampingmu dengan label ‘teman’mu lagi.  Karena itu hanya akan menjadi tamengmu untuk bersembunyi, jangan ganggu hidupku lagi aku juga ingin mengenal banyak orang dan ak… aku juga ingin dicintai. Tolong biarkan aku bahagia, meskipun bukan denganmu aku yakin aku bisa menjalani sendiri kau tak usah mengkhawatirkanku lagi.”

 

“Kau kira kau bisa pergi dariku? Kau tahu aku Song daehan, aku bisa menemukanmu kemanapun kau bersembunyi. Kau lee yongjin-ku, tak ada yang boleh memilikimu kecuali aku, jika ada orang yang berani mendekatimu itu berarti mengibarkan bendera perang denganku. Jika kau berani dekat dengan pria lain aku bersumpah nasibnya akan lebih buruk dari yang kulakukan pada kim hanbin. Aku tak memberikan pilihan lee yongjin, kau harus ada disampingku sampai kapanpun. Selagi aku masih baik, diam disini dan aku akan menganggap semuanya baik-baik saja.” Daehan mendekatkan wajahnya untuk menggapai bibir yongjin yang daritadi mengganggu konsentrasinya namun saat akan mempertemukan bibirnya yongjin menolak dan berusaha melepaskan belengggu song daehan namun yongjin berlari ke arah yag salah. Daehan yang tak bisa lagi menahan amarahnya sekarang setelah beberapakali yongjin menghindarinya ia kehilangan kewarasan

 

“Kau pikir kau akan kemana Lee yongjin! Kau takkan pernah bisa pergi sejengkalpun dari apartement ini.” Daehan menghempaskan tubuh yongjin dengan sedikit keras karena yongjin melakukan perlawanan yang hebat dan ia menahan kedua tangan yongjin diatas kepala yongjin hingga yongjin pasrah karena tenaganya terkuras

 

“KAU GILA SONG DAEHAN! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN! LEPASKAN AKU!”

 

“Tak ada cara lain, aku harus membuatmu hamil untuk mengikatmu denganku.” Bisik daehan dan itu berhasil membuat aliran darah yongjin berhenti sebentar ia merasakan daehan dengan kasarnya membuka bajunya dan mencoba menelanjanginya dengan ciuman yang menggebu yongjin benar-benar merasa seperti pelacur sekarang.

 

Ia merasa tak dihargai sebagai wanita, saat dehan berhasil menelanjanginya ia melihat daehan menelanjangi diri sendiri dan kembali mencumbunya, ia yakin pasti banyak ‘bekas’ yang akan daehan tinggalkan.

 

“Kumohon jangan daehan, jangan lakukan ini padaku. Kau berjanji akan menjagaku lalu apa yang lakukan sekarang!? Berhenti atau aku akan benar-benar membencimu! hiks” Tangisan dan raungan yongjin tak dihiraukan sama sekali oleh daehan, seperti kesetanan daehan terus membuat tanda ditubuh yongjin menggantikan tanda hanbin, selanjutnya yongjin benar-benar mengutuk apa yang telah dilakukan dehan padanya.

 

‘Tuhan, jika kau mengambil nyawaku sekarang aku akan berterima kasih karena aku tak tahu akan sanggup hidup setelah ini.’ Batin yongjin

 

 

 

———————————at morning—————————————-

 

DAEHAN POV

 

Kukerjapkan mataku karena matahari seakan mengatakan selamat pagi dengan cahayanya yang terang. Dan saat mengingat yang terjadi semalam sepertinya mimpiku sudah terwujud, kau berada dihadapanku saat aku membuka mata. Melihat wajahmu sedekat ini membuatku semakin mencintaimu, kau seperti bayi yang tak tahu apa-apa jika tertidur seperti ini.

 

Aku tak tahu kapan tepatnya aku jatuh cinta padamu, kemarin, 1 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu? Atau bahkan sebelum kau mencintaiku? Saat pertama melihatmu menjadi bulan-bulanan senior saat MOS JHS?

 

Aku memang tak salah mneilaimu kau memang cantik luar dalam, dan karena itu aku harus berusaha degan keras untuk menjagamu dari para pria yang ingin mendekatimu dari dulu sampai sekarang entah sudah berapa kali aku menyuruh chief jang untuk mengurus-mengancam- pria yang dekat denganmu, alasannya?

Aku tak menyukai jika kau dekat dengan pria selain aku bahkan jika kau dekat dengan Minguk aku merasa ia adalah ancaman. Namun aku tahu alasan aku senang jika melihat tertawa, sedih jika kau menangis, khawatir jika kau tak mengabariku, kecewa jika kau membohongiku, takut jika kau pergi dariku itu semua karena dirimu, Lee yongjin apakah kau tahu aku mencintaimu begitu besarnya namun aku hanya tak bisa menjabarkannya dengan kata-kata.

 

Aku tahu aku pengecut karena tak mengucapkan isi hatiku yang sebenarnya hingga kemarin aku melihatmu meledak dan mengucapkan semua yang ada dihatimu, hatiku sakit saat melihatmu menangis apalagi itu karena diriku. Aku sendiri tak mnegerti mengapa bibir ini tak bergerak dan lidahku kelu saat kau mengucapkan kau mencintaiku. Namun percayalah, hanya kau yang ada dihatiku tak pernah ada yang lain. Kau seperti kupu-kupu yang akan terbang dan hilang jika aku tak memegang tanganmu.

 

“Maafkan aku karena menjadi pengecut dihadapanmu, aku tak tahu ini sudah terlambat atau belum. Aku mencintaimu Lee yongjin, terserah jika kau akan percaya atau tidak. Kau harus tetap disisiku apapun yang terjadi, kau milikku selamanya.” Bisikku ditelinganya dengan suara serakku, setelah menarik tanganku yang menjadi bantalnya tidur.

 

Aku mencari kacamataku yang kulemparkan sembarang tadi malam, untung saja masih utuh meskipun berada sedikit jauh dari jangkauanku. Setelah menggapainya aku mengambil smartphoneku dan memencet speed dial 4

 

“Chief Jang, tolong siapkan semuanya.” Titahku

 

Aku kembali berbalik melihat yongjin yang posisinya tak berubah saat kutinggalkan sebentar, kulangkahkan kakiku untuk memberikan morning kiss didahinya, dan sekilas aku teringat pergulatan yang kulakukan dengan yongjin semalam.

 

Setelah kusingkirkan selimut yang menghalangi tubuh indah yongjin-ku kulihat banyak sekali tanda bahkan memar(?) yang ada disekujur tubuh wanita-ku, demi apapun hatiku terasa nyeri saat melihatnya. Aku tak mengira tindakanku berbuah memar ditubuh yongjin. Sialan kau pria brengsek song daehan, mengapa kau membuat luka ditubuh wanitamu?

 

“mianhae young” bisikku tepat ditelinga yongjin, saat melihat wajah tenang yongjin tanpa piir panjang aku mulai mencium mata hidung pipi dan bibir yongjin bergantian, aku benar-benar tak bermaksud menyakitinya hanya saja melihat yongjin sedih aku tak mampu mengontrol perbuatanku sendiri. Dengan langkah yang ringan kuambil boxerku dan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap acara sore ini.

 

 

“Kali ini kau takkan bisa pergi lagi dariku Lee Yongjin, Selamanya.” Batinku

 

 

THE END

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s