IT HAS TO BE YOU PART 2

PhotoGrid_1468143238460

TITLE : IT HAS TO BE YOU (SEQUEL ‘TO BE WITH YOU’) PART 2
AUTHOR : IYONGIE
MAINCAST : HWANG EUNBI (0C)
SONG MANSE (OC)
CAST : JASPER CHO (OC)
CHOI YUJU (GFRIEND)
KIM JOONMYUN (SUHO EXO)
BAE JUHYUN (IRENE RED VELVET)
KWON HARU
HWANG FAMILY,
SONG FAMILY

LENGTH : CHAPTERED

GENRE : ROMANCE, HURT, FAMILY, SAD.

RATING : PG-17


Note :
Annyeong! Disini aku bawa sequel fanfiction yang pernah aku kirim ke skf judulnya ‘what is love’.
Mau klarifikasi, masalah judulnya aja.
Di skf kan judulnya ‘What is Love’ nah kalo di blog pribadi aku judulnya itu ‘To be with you’.
Kalo ada yang penasaran sama blog aku silakan kunjungi https://iyongie.wordpress.com/
Dan kalo pengen lebih ‘ngena’ feel nya silakan putar lagi dibawah ini
BACK SONG :
Ben – Like a dream
Jung Seungwan – If it is you
Yesung – It Has To be You

€ Storyline by Iyongie
Typo is my style
HAPPY READING!
=====================================0o0======================================

AUTHOR POV
—–AT TAEJIN’S HOTEL—–

Ulangtahun Song Group selalu dijadikan moment yang penting oleh seluruh pebisnis dikorea, karena saat itu adalah saat yang bisa menjadi ajang pengakuan diri pebisnis yang sukses dan disana juga dimanfaatkan agar menjalin koneksi yang lebih luas dengan rekan pebisnis lainnya. Luar biasa bukan?

Song Manse, sesaat setelah ia datang semua perhatian terarah padanya karena siapapun pasti akan memalingkan wajahnya pada orang yang kelewat sempurna ini, jas hitam yang ia pakai sangat pas ditubuh atletis-nya dan jangan lupa pada gaya rambut manse yang memperlihatkan dahi yang sempurna. Ia berusaha memberikan senyuman terbaiknya saat kamera mengarah padanya, dan sesekali melambaikan tangannya pada fans yang sudah memenuhi halaman hotel yang akan dimasuki-nya. Saat menjawab pertanyaan dari para wartawan ia sekilas melihat ada mobil yang berhenti tak jauh dari jarak pandangnya, entah mengapa hati manse ingin melihat siapa yang keluar dari mobil mewah itu dan seketika senyuman manse semakin lebar saat melihat wanita yang menjadi alasannya datang ke acara ini.

Setelah melakukan wawancara yang singkat manse langsung memasuki hotel yang dimiliki kakak sulungnya itu, sedari tadi seojun selalu mengingatkan manse untuk tak bertingkah aneh seperti tahun lalu dan manse hanya merespon dengan smrik-nya. Ah apa kalian sudah tahu jika tahun lalu manse datang ke acara penting ini dengan keadaan yang sangat mengenaskan, wajah yang lesu dan kantung mata yang jelas terlihat bahkan dari jarak 100m lalu saat daehan memperkenalkan untuk pertama kali di media jika pembalap nasional song manse adalah adik bungsunya, manse pingsan tak sadarkan diri. Semua orang panik dan langsung dibawa ke rumah sakit. Vonis dokter menunjukan manse stress dan overdosis obat tidur, sejak hari itu Minguk selalu mengontrol kesehatan manse sampai sekarang. Tak ada penolakan karena manse selalu mejadi adik yang penurut dihadapan para kakak-nya.

Suara instrument jazz menjadi backsound acara ulangtahun Song Group yang di selenggarakan di salah satu hotel yang dimiliki Song Daehan. Para tamu terlihat sangat menikmati pesta mewah itu, dengan dekorasi yang apik, music yang indah, makanan yang dibuat oleh koki handal, dan jangan lupakan suasana pesta yang terlalu sayang jika dilewatkan, semua orang yang ada disini pasti tak ingat jika saat ini waktu sudah memasuki tengah malam.

Setelah memasuki Ballroom manse terlihat selalu mengerutkan keningnya, ia mencari keberadaan hwang eunbi-nya. Dan saat ia telah mengambil minuman yang ditawarkan oleh pelayan, manse berhasil menemukan eunbi yang sedang berbicara dengan para ahjussi yang sepertinya sudah memasuki usia berkepala 5.

Tanpa ragu manse menyimpan minuman yang belum ia sentuh sama sekali pada meja yang berada didekatnya dan tentu saja ia langsung menghampiri gadis-nya. Saat ia mendekat, terlihat para ahjussi yang tak manse kenal membungkukan badan-nya dan dibalas oleh manse namun hwang eunbi masih belum menyadari keberadaan manse.

“Annyeonghaseyo Tuan Song” salah satu ahjussi yang berada dikerumunan itu menyapa manse dengan senyuman

“Annyeonghaseyo” ucap manse sopan dan membungkukkan badannya-lagi-

Para ahjussi tadi langsung memberi manse selamat dan manse mengucapkan terimakasih dan menjawab pertanyaan para ahjussi yang lain namun pandangannya tak pernah lepas dari hwang eunbi, entah mengapa manse menjadi awkward dengan eunbi terlebih saat terakhir mereka bertemu eunbi meninggalkannya begitu saja dan manse masih penasaran siapa pria yang bersama eunbi saat itu, memang ia bisa membayar orang untuk menelusuri siapa pria itu tapi entah mengapa ia tak melakukannya sebagian hatinya berkata tidak karena ia takut apa yang ia pikirkan adalah kenyataan.

Setelah berbincang cukup lama akhirnya para ahjussi itu meninggalkan manse dan eunbi sendirian. Ya, siapapun bisa melihat jika sedari tadi manse selalu memperhatikan eunbi.

“eun-a” manse memanggilnya dengan lembut bahkan eunbi merasakan bulu kuduk-nya berdiri, tak pernah sekalipun eunbi mendengar manse memanggilnya selembut ini.

“Nde, Song Manse-ssi?” eunbi berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang dan memperlihatkan senyumannya

“Mengapa kau memakai dress seperti itu? Kau akan sakit. Bukankah kau bilang kau lebih menyukai jeans robek-mu atau dress onepiece koleksi-mu?” ucap manse sambil membuka jas-nya dan saat manse akan menyampirkan jas-nya eunbi menolak dengan cara memegang tangan manse dan mengisyaratkan tidak dengan matanya

“Jangan lakukan itu, semua orang melihat kita manse-ssi”

“Wae? Percaya padaku kau akan sakit jika terus menerus mengenakan dress ini eun-a” manse memaksa eunbi untuk membiarkannya menutupi pundak eunbi yang bebas karena memang dress yang dikenakan eunbi memperlihatkan pundak dan sedikit punggung mulusnya.

“Aniya, gwenchanayo Manse-ssi. Tolong jangan memperlakukanku seperti itu, orang-orang mungkin akan salah paham”

“Aku sangat tak nyaman dengan sikapmu yang seperti menghindariku, Tak bisakah kita kembali seperti dulu?” manse berkata sambil membenarkan jasnya agar lebih menutup pundak eunbi secara keseluruhan

“Mianhaeyo manse-ssi, aku juga sangat tak nyaman dengan sikap-mu yang seperti ini. Jika kau melakukan ini hanya karena merasa bersalah telah meninggalkanku tolong hentikan, aku tak perlu dikasihani oleh orang sepertimu. Aku akan berterimakasih jika kau bersikap seperti tak mengenalku” eunbi menatap manse dengan tatapan yang menusuk dan mengembalikan jas manse yang berada dipundaknya dan berlalu begitu saja tanpa melihat manse yang mematung dan kini pandangan manse kosong, mendengar kata-kata yang keluar dari mulut hwang eunbi bagaikan panah yang menusuk langsung ke jantung-nya, sakit sekali. Bahkan ini lebih sakit dari melihat sarang bersanding dengan pria lain di pelaminan
========================================0o0==================================

Saatnya acara inti dimulai, Song Daehan selaku CEO SONG Group memberikan penyambutan dan berterimakasih pada tamu yang datang dan semua orang yang sudah membantu Song Group menjadi sukses seperti sekarang ini. Namun sedari tadi pandangan Song Manse tertuju hanya pada Eunbi, tak pernah sedetikpun manse mengalihkan pandangnya pada hal lain bahkan sesekali ia lupa caranya berkedip karena terlalu focus pada wanita itu.

Saat eunbi memalingkan wajahnya ia menangkap ada mata lain yang sedang menatapnya intens. Ya, kini mata kedua-nya bertemu dan mampu menghantarkan getaran aneh dihati manse. Namun eunbi mengakhiri dengan segera memalingkan wajahnya dan berbisik pada wanita yang ada disamping-nya lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan, tanpa sepengetahuan eunbi ada pria yang mengikutinya.

AUTHOR POV END

====================

EUNBI POV

Kulangkahkan kaki-ku secepat mungkin untuk keluar dari ruangan ini. Aku tak ingin berada satu ruangan dengan-nya lebih lama, karena aku sudah menyapa dan memberikan selamat pada Tuan Song sepertinya tak apa jika aku pergi duluan kan?

——At Toilet——

Kuperhatikan bayangan diriku pada kaca besar yang ada dihadapanku. Benar, aku tak terlalu menyukai dress yang terbuka seperti ini aku lebih menyukai dress onepiece berwarna lembut tapi aku tak mungkin memakai itu di acara seperti ini kan? Kuambil smartphone yang berada di tas chanel-ku dan segera menge-check pesan tapi tak ada notification satu pun. Sudah 3 hari jasper oppa tak menghubungiku, tak seperti biasanya.

Oh ya, apakah aku sudah bercerita jika jasper oppa telah kembali ke AS dan langsung dikirimkan ke Urganda oleh pihak rumah sakit karena disana sedang membutuhkan relawan terutama tenaga medis? Seperti biasa ia menjadi ketua karena ia yang sudah mempunyai pengalaman menjadi dokter di daerah daerah yang tengah krisis. Namun sepertinya ia sangat sibuk karena tak sempat menghubungiku, memang sulit untuk mendapat sinyal disana tapi biasanya ia selalu menyempatkan ke telfon umum hanya untuk mengabariku. Tapi tak apa, aku tak boleh egois ia pasti sedang sibuk dengan pasien-pasiennya disana.

Setelah memperbaiki make-up ku segera kulangkahkan kakiku keluar dari toilet namun kurasakan ada seseorang yang menarik tanganku dan membawaku ke lorong hotel yang sangat sepi, seakan terhipnotis kubiarkan ia menggenggam tanganku lalu dengan perlahan ia membalikan wajahnya dan perkiraan-ku benar.

‘Song Manse?’ batinku heran

Kutunjukkan wajah sinis-ku saat melihatnya entah mengapa sekarang aku merasakan aura yang tak enak, karena itu aku berusaha melepaskan tangan manse yang semakin mencengkram lenganku

“Eodiga?” ia berbicara dengan intonasi yang sangat rendah, aku cukup terkejut karena ini bukan seperti song manse yang ada di ingatanku

“Bukan urusanmu”

“Wae? Kenapa kau meninggalkan acaranya? Apa karena aku?”

“Apa kau tak berpikir kau terlalu percaya diri, song manse-ssi?”

“Kau sudah mempunyai pria lain, geutchi?” ucapnya to the point dan mengeluarkan smirk andalannya

“Lepaskan aku” ucapku sinis dan masih berusaha melepaskan cengkramannya di lenganku

“Aku bertanya apa kau sudah mempunyai pria lain? Apa karena pria itu kau menjadi seperti ini?!” ucap manse sedikit berteriak diakhir kalimatnya

“Eoh! Aku sudah mempunyai ‘pria lain’ jadi tolong singkirkan tanganmu song manse-ssi.”

“Kau pikir aku akan percaya itu? Aku yakin kau hanya masih dendam padaku dan memanfaatkannya untuk membuatku cemburu bukan?” ucap manse mendekatiku dan kini tangannya sudah tak ada dilenganku namun ia meletakkan pada pinggang dan membelai pipi-ku dengan tangan lainnya “Bagaimana mungkin kau memintaku untuk bersikap seolah tak mengenalmu? Ya, aku mengaku aku bersalah dan berdosa karena membiarkan wanita sebaik dirimu terluka karena pria brengsek sepertiku.” Ia mengatakan itu dengan cara yang paling tak kusukai, terlihat sekali jika ia memang seorang pemain.

“Atas dasar apa kau mengatakan itu? Tak pernah sekalipun aku berniat untuk memanfaatkannya.”

“Gwenchana, jika kau benar-benar berpacaran dengannya. Aku bisa menjadi pacar kedua-mu.” Manse tersenyum penuh arti dan kembali membelai pipiku

“Mwo?!”

“Aku tak masalah menjadi selingkuhan-mu eun-a, aku yakin kau masih mempunyai perasaan padaku, ya kan? Bagaimana apa kau tertarik? Bukankah tawaran itu cukup menggiurkan eun-a?” kulihat ia semakin mendekatkan wajahnya padaku bahkan hidung kami kini hampir bersentuhan dengan gerakan refleks kutampar wajah-nya dan segera menjauh saat ia lengah

“Michin-nom, apa kau pikir aku sepertimu? Kau memang tak berubah, selalu seperti ini. Aku tak habis pikir sebenarnya apa yang dulu kupikirkan hingga menyukai pria brengsek sepertimu” kulihat ia menyentuh wajah yang terkena tamparanku namun aku sudah tak sanggup memandangnya, terlalu menyakitkan. Bahkan saat aku berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya ia masih tak berubah, selalu mempermainkan perasaanku dan yang lebih membuatku marah adalah hati ini mengapa menjadi goyah setelah mendengar kalimat itu. Kulangkahkan kaki-ku menjauh tapi lagi-lagi ia menangkap tanganku dan lalu menghentakkan tubuhku untuk kembali menatap-nya

“Baiklah jika kau tak ingin berselingkuh denganku. Putuskan dia, dan kembalilah padaku” ucapnya tanpa ragu sedikitpun, apa dia sudah gila?

“Aku sadar jika dulu aku sangat gampangan padamu, aku akan pergi jika kau mengusirku dan akan segera datang jika kau menyuruhku. Tapi apakah kau ingat? Kau sudah membuangku, kau yang berkata jika kau akan baik-baik saja tanpaku. Dan sekarang apakah kau pikir aku akan kembali hanya karena kau memohon seperti ini?” ia semakin mengeratkan cengkramannya ditanganku dan tatapannya berubah menjadi lebih tajam seakan ia ingin mendebatku hanya dengan tatapannya

“Mianhae eun-a, aku benar benar menyesal. Setelah kau pergi aku baru menyadari perasaanku yang sebenarnya, setiap hari aku selalu dirundung rasa bersalah karena dengan bodohnya meninggalkanmu sendiri dipantai jika saja aku tahu kau sedang sakit aku bersumpah takkan meninggalkanmu dan merasakan penderitaan sendiri disana. Hari-hariku terasa kosong tanpamu, tolong percayalah padaku. Aku menyukaimu, aku membutuhkanmu disisiku, aku mencintaimu eun-a. Jinjja ” aku sedikit tersentak saat ia mengatakannya dengan frustasi. Bohong jika aku berkata aku tak merasakan apa-apa, entah mengapa hatiku sedikit bergetar saat ia mengatakan mencintaiku tapi aku benar-benar tak bisa. Hampir saja aku terkecoh karena melihat air mata yang mengalir bebas dipipinya.

“Lepaskan” gumamku

“Sebenarnya apa yang kau inginkan eun-a? Bukankah aku sudah bilang mencintaimu! Aku bahkan rela menjadi selingkuhan-mu jika kau masih ingin berkencan dengan pria itu, dan sekarang aku sedang berlutut dan memohon padamu. Aku tahu kau menderita disana tapi apakah kau pernah berfikir jika aku juga menderita disini? Setiap hari aku selalu menghukum diriku karena telah berbuat dosa padamu. Jadi tak bisakah kau kembali saja padaku? Eum?”

“Berhentilah bertingkah seolah kau yang tersakiti disini, Aku …. aku sudah lelah manse-ssi, tak bisakah kau pergi saja dari kehidupanku?” aku mengatakan itu dengan hati yang meledak-ledak, ingin rasanya menangis tapi aku tak ingin memperlihatkan sisi lemahku padanya. Tuhan aku sudah muak dengan semua drama ini, bahkan setelah melihatnya berkata tulus seperti itu entah mengapa aku masih tak percaya padanya. Jika saja ia mengatakan ini 4 tahun yang lalu mungkin aku takkan berfikir dua kali untuk menghamburkan tubuhku ke pelukannya tapi, setelah semua yang sudah kulalui aku tak bisa dengan mudah mempercayainya.

“Bagaimana mungkin aku pergi dari kehidupanmu jika aku tak bisa hidup tanpamu?!” ia langsung mencengkram lengan atasku dengan lebih erat

“Kumohon lepaskan aku manse-ssi” dengan cepat kucoba untuk melepaskan cengkraman tangannya, aku yakin ini akan meninggalkan bekas.

“Eun-a, jebal” tuturnya lembut, sangat lembut hampir seperti memohon.

“JANGAN PANGGIL AKU DENGAN NAMA ITU!!!” aku berteriak dan melepaskan cengkraman tangannya pada tanganku dan itu sukses membuat manse membulatkan matanya dan menatapku tajam, apakah ia tak pernah mendengarku berteriak seperti ini?

“Kau tak mencintaiku! Kau hanya merasa bersalah padaku manse-ssi. Wanita yang kau cintai hanya cho sarang bukan aku, jadi pergilah padanya dan menghilanglah dari kehidupanku. Kumohon!!”

“Aniya, kau salah. aku tak mencintai sarang, orang yang kucintai adalah kau hwang eunbi!” manse meletakkan tangannya dikedua pundakku lalu meremasnya seakan meyakinkanku jika yang ia ucapkan adalah benar

“Tapi sekarang akulah yang tak mencintaimu, jadi berhentilah mengganggu hidupku. Aku muak padamu song manse-ssi” kulihat ia kembali meneteskan air matanya, bahkan saat aku melepaskan diri dari cengkramannya ia tak melawan dan membiarkanku pergi tanpa perlawanan. Aku berusaha melangkahkan kaki-ku untuk menjauhinya

“AKU MENCINTAIMU EUN-A! AKU.. AKU SUNGGUH MENCINTAIMU! BAGAIMANA MUNGKIN KAU MELAKUKAN INI PADAKU? SETELAH MEMBUATKU JATUH CINTA PADAMU KAU PERGI BEGITU SAJA. BUKANKAH 4 TAHUN CUKUP UNTUK MENYIKSAKU? AKU BERSUMPAH INI SEMUA JUGA BERAT UNTUKKU! JANGAN TINGGALKAN AKU, JANGAN PERGI PADANYA!!! KUMOHON TETAPLAH DISISIKU” Aku mendengar dengan jelas teriakan manse karena lorong ini sangat sepi dan itu membuat gema yang tak kalah nyaring

“Itu urusanmu jadi uruslah sendiri, jangan merecoki hidupku dengan drama-mu. Kau jelas sudah tahu jika aku sudah mempunyai pria lain, jadi jangan mengharapkan apapun padaku.” setelah mengatakan itu entah mengapa hatiku terasa lebih ringan. Ya, mungkin itu sedikit berlebihan tapi aku benar-benar ingin mengeluarkannya dari kehidupanku. Karena saat melihatnya aku selalu menjadi diriku yang lemah dan selalu mengingat rasa sakit yang ia beri, demi tuhan aku tak ingin merasakan rasa sakit itu lagi. Aku sudah berjanji pada aboeji untuk menjalani hidup yang baik dan itu termasuk untuk mengeluarkan seorang song manse dari kehidupanku.

EUNBI POV END

===================================0o0==============================
AUTHOR POV

Musim telah berganti, daun-daun yang jatuh berguguran sekarang sudah menghilang digantikan dengan butiran-butiran salju yang menutupi seluruh penjuru kota Seoul.
Masih teringat jelas dalam ingatan manse saat eunbi meninggalkannya sendirian dengan mata dingin dan kata-kata yang tajam menusuk tepat dijantung manse. Jika saja ia egois mungkin saat itu ia akan mengejar eunbi-nya dan melakukan hal-hal liar yang ada dikepalanya agar eunbi tetap berada di sisinya tapi manse masih sadar untuk melakukan hal yang busuk itu.

Namun, ia benar-benar tak bisa mengenyahkan eunbi dalam pikirannya. Bahkan saat ia terbangun dari tidurnya ia melihat eunbi tersenyum disampingnya, saat makan ia melihat eunbi duduk disampingnya masih dengan senyumnya yang manse favoritkan. Apapun yang dilakukan manse ia selalu melihat eunbi dijarak pandangnya, sepertinya sebentar lagi ia akan gila karena merindukan wanita itu.

Dan saat itu juga ia memutuskan untuk tetap berada didekat hwang eunbi. Meskipun ia menggunakan cara yang kotor dengan memanfaatkan kekuasaan hyung-nya, manse tak peduli. Ia hanya ingin berada didekat eunbi-nya. Tak peduli tanggapan eunbi tentang kelakuannya yang bisa dianggap sedikit ‘nekat’ manse terus mengganggu eunbi. Entah itu dengan cara menghubungi eunbi melalui telfon atau melalui pesan singkat, bahkan hal terekstrim yang manse lakukan adalah selalu hadir di rapat antara Song Group dan Hwang Group yang baru-baru ini menjalin kerja sama, eunbi menganggap manse masih bermain-main dengannya dan itu kadang membuatnya naik darah dengan kelakuan manse yang diluar nalar.

Apakah ini yang manse rasakan saat eunbi mengejar-ngejarnya dulu? Ya, kata-kata eunbi tak membuat manse menyerah, ia masih yakin jika eunbi masih mencintainya. Ya, setidaknya manse masih mempunyai keyakinan itu untuk tetap hidup. Terkadang manse memang sakit hati dengan perkataan tajam eunbi atau perlakuan kasar eunbi padanya tapi ia tetap tak menyerah bahkan ia semakin bersemangat dan terus menempelkan dirinya pada eunbi.

Namun hati hwang beunbi sedikit melembut saat ia tak sengaja berpapasan dengan lee seojun di restoran favoritnya. dengan awal yang hanya saling menyapa entah bagaimana caranya mereka berujung menceritakan keadaan manse setelah eunbi pergi untuk berobat ke AS, eunbi sudah mengetahui semuanya awalnya ia tak percaya tapi eunbi terlalu mengenal lee seojun yang tak mungkin membual disaat seperti ini. Ya, eunbi mengetahui apa saja yang dilalui manse, semuanya, termasuk penyebab kecelakaan di sirkuit 3 tahun silam dan berapa kali manse keluar masuk rumah sakit karena-nya.

Ia sadar ia egois selama ini, ia hanya larut dalam kesedihannya tanpa mengetahui keadaan manse disini. Manse juga sama hancur dengannya, tapi eunbi memilih untuk menutup telinga dan matanya karena ia tak ingin terluka lebih dalam. Ia tak menyangka akan berakibat seperti ini tapi waktu tak bisa diputar kembali. Ia sudah memilih jalan ini.
===================================0o0=======================================

EUNBI POV
“Eun-a bukankah kau sudah tak ada jadwal dan besok kau libur? Ayo kita kencan.” Pria itu selalu saja menggangguku saat aku disuguhkan berkas-berkas yang menumpuk seperti saat ini

“Michosso? Apakah kau tak ada pekerjaan lain selain membuntutiku seperti sekarang ini? Dan juga tolong jangan panggil aku dengan nama terkutuk itu lagi, telingaku sakit mendengarnya.” Aku meringis dan melihatnya sekilas dengan ujung mataku menunjukan jika aku terganggu dengan kehadirannya. Apa kalian tahu apa yang sedang dilakukan pria ini diruanganku? Ia sedang duduk manis bersandar pada sofa sambil menatap kearahku dengan puppy eyes-nya dan saat asistenku masuk untuk menawarinya minuman dengan aura flower boy-nya menjawab

“Seperti biasa Asisten cha” lagi, ia menunjukan senyuman yang kusukai dulu. Dari jawaban manse tentu kalian sudah tahu seberapa sering pria itu mengganggu hidupku kan?
Dengan wajah yang memerah asisten cha menganggukan kepalanya dan menutup kembali pintu dengan pelan

“Bukankah kau dulu sangat menyukainya? Aku bahkan masih teringat wajah girangmu saat aku membuat nama panggilan untukmu.” Ledeknya dan ia berdiri lalu memasukkan tangannya kedalam saku celana dan menuju kearah jendela yang memperlihatkan keadaan kota seoul.

“Geumanhae Song Manse-ssi. Mengapa kau selalu mengungkit masa lalu? Itu bahkan sudah 4 tahun yang lalu” aku mengalihkan perhatianku yang sedari tadi terarah pada berkas dan sekarang berada sepenuhnya pada song manse

“Wae? Aku bahkan masih mengingat dengan jelas kenangan kita saat kencan saat itu.”

“Dan pastinya kau masih mengingat saat kau menolakku kan?” manse terdiam dan badannya membeku, aku bisa melihat semua itu tapi dengan cepat ia dapat mengendalikan diri dan menunjukan senyumannya, lagi

“Secara lisan aku tak menolakmu.” debatnya

“Kau menolakku”

“Jika aku tahu akan seperti ini, aku takkan meninggalkanmu saat itu” ucapnya dan ia melangkahkan kakinya padaku

“Takkan ada yang berubah. Kita memang tak ditakdirkan bersama manse-ssi, aku sudah mempunyai pria lain jadi tolong jangan membuatku menjadi wanita yang lebih jahat lagi. Aku benar-benar sudah memaafkanmu.” Ia sudah berdiri tepat disampingku dan dengan cepat ia memutar kursi-ku untuk mengahadapnya lalu mencondongkan wajahnya mendekat padaku “jika kau terus melakukan ini, kau hanya akan merugikan dirimu sendiri. Tak ada gunanya kau terus menempel padaku seperti ini, aku takkan pernah merubah pilihanku, aku takkan pernah pergi dari sisi jasper oppa”

“Bukankah sekarang aku sudah menjadi selingkuhanmu? Aku tak menyuruhmu untuk pergi dari sisi jasper, kau hanya perlu ada disampingku dan aku takkan mengatakan apapun pada jasper ataupun yang lain.”

“Bukankah sudah kukatakan aku takkan pernah menduakan cinta jasper oppa? Aku tak bisa sepertimu yang bisa mengencani wanita dalam satu waktu. Tak bisakah kita berteman saja?” ucapku ketus, aku sudah bosan mengatakan ini pada manse. Ia benar-benar keras kepala

“Bahkan saat ini aku sedang menahan untuk mencium dan memelukmu. Menurutmu dengan pikiran seperti ini aku bisa menjadi temanmu? Lagipula kukira kau sudah mulai menerima kehadiranku lagi, kau tak menolak kehadiranku disampingmu dan jarang mengatakan kalimat-kalimat yang menyakiti hatiku”

“Aku melakukannya atas permintaan seojun dan hyung-mu” gumamku lalu menghadapkan kursiku pada meja kerja-ku. Dan manse mendudukan dirinya diatas meja tanpa risih dengan tatapanku yang ku buat tajam, ya aku tak bisa mengendalikan manse. Dan aku memilih untuk melanjutkan pekerjaanku

“Jadi? Besok kita akan kencan kemana?”

“Eun-a”

“Eun-a”

“Jangan mengacuhkanku?!” rengeknya

“Apa kau bayi? Apa kau tak bisa lihat pekerjaanku yang menumpuk ini?” ucapku malas tanpa melihat manse yang aku yakin sedang menatapku lekat-lekat

“Aku dengar sedang ada festival di taman kota, besok malam kita pergi kesana saja. Ok?” aku melihat manse sedang memiringkan kepalanya dengan mata yang ia kedipkan itu membuatku merinding. Apakah ia mengeluarkan aegyo itu lagi?

DRRTTT DDRRTTTT

Kulihat smartphone-ku bergetar segera kuambil lalu menggeser tanda telfon yang berwarna hijau “Yeoboseyo eomonim” kubuat suaraku terlihat ceria namun yang aku dengar hanya suara isakan dari smartphone-ku, tanpa sadar aku sudah berdiri dan sedikit menggebrak meja yang berada didepanku

“What should we do? Eunbi-a, j-jasper. Jasper cho, anakku!!” aku hanya mendengar suara tangisan eomonim dengan kalimat yang susah payah ia ucapkan dengan Bahasa korea

“Eomonim wae? Ada apa dengan jasper oppa? Apa ia sudah pulang? Mengapa kau menangis?” ucapku panic saat eomonim tak menjawab pertanyaanku dan terus menerus menangis, sebenarnya apa yang terjadi pada jasper oppa? Tanpa sadar aku meremas rok-ku. Aku rasa ini pertanda buruk

“Eonni, bisakah kau datang ke busan sekarang?” suara ini bukan eomonim tapi adik perempuan jasper. Busan? Itu adalah kampong halaman ibu jasper, tapi mengapa aku harus kesana? Apa jasper sudah pulang tanpa memberitahuku?

“Clara-a wae? Apa jasper sudah pulang dan langsung ke busan?”

“Eonni, Oppa meninggal.” Seketika aku tak bisa mendengar apa yang dikatakan clara selanjutnya, pikiranku blank dan saat aku melihat sekelilingku semuanya berputar termasuk manse yang saat ini ada dihadapanku. Aku melihat mulutnya bergerak tapi aku tak dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya dan

BRUKK

“EUN-A!!!”

===TBC===

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s