ANGEL

1003398_587184041324230_1318086681_n

 

TITLE : ANGEL
AUTHOR : IYONGIE
MAIN CAST : OH SEHUN
HAN CHEONSA (OC)
OTHER CAST : KIM SEUNGAH
LENGTH : CHAPTERED
GENRE : ROMANCE, FRIENDSHIP
RATING : PG-15
SUMMARY : “Aku berharap aku mati karena patah hati dan setelah itu kau akan merasa bersalah selamanya. Aku berharap kau akan menjadi gila jika ada yang menyebut namaku dihadapanmu.”

Kalo ada yang penasaran sama blog aku silakan kunjungi https://iyongie.wordpress.com/
TYPO IS MY STYLE

HAPPY READING

—-STORY BEGIN—-


=========================================o0o======================================
AUTHOR POV

Han Cheonsa, wanita yang sangat menawan bahkan dilihat dari manapun ia sangat sempurna. Tak perlu dipoles dengan make-up yang berlebihan, ia bahkan cantik dengan caranya sendiri. Wanita yang terkenal sangat feminine saat Senior High School, bagaimana tidak ia memiliki rambut hitam bergelombang berponi kuda, kulit yang putih bersih, hidung yang lancip, pipi yang merona alami saat malu ataupun marah dan jangan lupa bibir merah tipisnya, bahkan para siswa pria selalu menjadikannya primadona karena suara lembutnya. Meskipun ia sangat dipuja oleh para siswa ia tak dibenci oleh siswi lainnya seperti cerita di drama kebanyakan, banyak para siswi yang ingin berteman dengannya karena berasal dari keluarga terpandang dan kepribadiannya yang pandai bergaul ditambah kecerdasan otaknya yang patut diperhitungkan. Meskipun saat ini ia sudah menginjak bangku universitas kepopulerannya tak berkurang tapi semakin meningkat karena ia aktif dalam organisasi. Cantik, pintar, pandai bergaul, feminine, rendah hati, apalagi yang kurang darinya?

30 menit sudah berlalu, namun tak ada sepatah katapun keluar dari dua orang yang sedang berhadapan saat ini, berbanding terbalik dengan pengunjung café lainnya yang sedang menikati malam ini dengan penuh canda tawa.

Seakan mengerti jika cheonsa tak akan pernah bicara pertama disaat seperti ini sehun harus jadi orang pertama yang menjelaskan tentang permasalahan ini. Ya, Oh Sehun adalah namjachingu Han Cheonsa, lebih tepatnya adalah cinta pertamanya. Mereka memiliki jarak umur 3 tahun, sudah lebih dari 10 tahun mereka hidup seperti adik-kakak karena rumahnya yang bertetangga mereka sudah biasa dititipkan satu sama lain oleh orang tua masing-masing. Namun 2 tahun yang lalu tepatnya saat sehun lulus dari Universitas Seoul mereka sepakat untuk lebih dari ‘adik-kakak tak sedarah’ dan menjadi sepasang kekasih. Selama ini hubungan mereka baik-baik saja tapi bukankah aneh dalam 2 tahun mereka tak pernah bertengkar dan kejadian kemarin adalah alasan mengapa mereka disini duduk manis, saling memandang satu sama lain dengan tatapan yang sudah berbeda. Ya, ada yang berbeda dengan tatapan sehun pada cheonsa.

“Cheonsa-a” sehun memecah keheningan malam yang indah ini dengan suara berat-nya

“Wae oppa?” cheonsa menjawab itu dengan lembut ‘khas’-nya seolah tak terjadi apapun diantara mereka

“Soal kemarin, a-aku minta maaf” sehun memandang cheonsa dengan tatapan bersalahnya

“Kemarin? Oh, saat aku melihatmu dengan seungah eonni di Mall? Tak apa, bukankah oppa sudah menjelaskannya dulu jika kalian hanya teman saat kuliah.” Cheonsa tersenyum seakan tak terjadi apa-apa dengan hubungannya sehun. Ya, tadi malam ia menangis karena banyak bayangan-bayangan sehun tersenyum dan terlihat sangat bahagia dengan wanita lain selain dirinya itu sangat menyayat hati-nya.

“Oh aku pernah bilang begitu tapi… aku… aku” cheonsa aneh melihat sehun tergagap, itu tak seperti biasanya tak lama kemudian ia melihat sehun berkaca-kaca lalu menundukan kepalanya seperti siap untuk menerima hukuman “mianhae cheonsa-a, aku bersalah padamu.”

“Wae oppa? Eoh, kau menangis?” cheonsa menjadi gusar dan dengan cepat ia mengambil tissue yang ada didalam tasnya dan memberikannya pada sehun “Katakan padaku ada masalah apa? Mengapa kau menangis oppa? Ada yang berbuat jahat padamu?” cheonsa berbicara dengan cepat tapi masih dengan suara lembutnya dan itu membuat sehun sangat tersiksa, ia tak tahu dengan perasaannya sendiri saat ini.

“Aku berkencan dengannya.”

“Mwo?”

“Kim Seung-Ah, Aku berkencan dengannya, mungkin sudah lebih dari 2 bulan. Mianhae cheonsa-a, aku mengaku aku bersalah tapi aku benar-benar menyukainya saat ini. Kau boleh membenciku karena aku sadar aku pantas dibenci olehmu.” Seketika jantung cheonsa seakan berhenti, ia tak bisa merasakan jantungnya berdetak lagi. Cheonsa mencubit punggung tangannya tapi ia merasakan sakit, ‘ini bukan mimpi’ batinnya. Dan ia pasti tak salah mendengar karena ia yakin ia tidak tuli dan saat melihat sehun-nya ia yakin ini nyata dan sehun tak sepandai itu untuk ber-acting. Cheonsa merasakan mata-nya panas dan tangannya bergetar, ia menolehkan pandangannya kearah lain. Ia sangat iri pada pasangan dimeja lain karena mereka terlihat sangat bahagia namun apa yang terjadi pada dirinya? Ia yakin mala ini adalah malam terakhirnya menjadi yeojachingu oh sehun.

“Apa yang kurang dariku oppa?” Sehun mengerutkan keningnya lalu melihat cheonsa dengan tatapan bersalahnya

“Aniya cheonsa-a, kau tak kurang apapun. Disini aku yang salah, aku yang mengkhianatimu.” Sehun sangat tersiksa dengan tatapan cheonsa sekarang, tak sekalipun ia berniat untuk menyakiti cheonsa-nya, tak pernah.

“Kau takkan mengkhianatiku dan berselingkuh dengan seung-ah eonni jika aku tak memiliki kekurangan oppa.” Cheonsa gagal menahan air matanya, dan ia dengan sigap menghapus air matanya agar sehun tak melihat sisi lemahnya.

“Ah itu… Hanya… Aku hanya merasa lebih nyaman dengannya” sehun tergagap karena melihat cheonsa menangis dan sialnya itu karenanya. Sudah 17 tahu lebih ia menghabiskan waktu dengan cheonsa, ia terbiasa dengan wajah ceria dan senyuman cheonsa yang indah.

“Oh jadi seperti itu, ternyata aku tak memberimu kenyamanan.” Cheonsa menganggukan kepalanya seakan mendapatkan jawaban dari pertanyaan besarnya saat ini. fakta ia tak memberi kenyamanan pada sehun dangat menganggunya. Ia sudah sekuat tenaga memberikan yang terbaik pada sehun tapi tetap saja ia gagal. Gagal mempertahankan cinta Oh Sehun.

“Cheonsa-a” sehun memelas dan berusaha menggapai tangan cheonsa namun gerakan tangannya terhenti saat mendengar pertanyaan cheonsa

“Apa kau bahagia?”

“Eoh? Oh aku bahagia”

“Baiklah, jadi bagaimana dengan hubungan kita? Aku tak masalah jika kau ingin berkencan dengannya aku bisa menunggumu kembali” cheonsa mengatakan itu dengan wajah yang sangat memelas seakan berniat untuk mengubah keputusan sehun

“Jangan seperti itu Han Cheonsa! Aku tahu jika aku membahas ini kau akan mengatakan itu! Aku sangat mengenal dirimu, kau sangat baik tapi kau tak perlu terlalu baik padaku.” Sehun menghembuskan nafasnya kasar “Aku tak ingin menyakitimu lebih dalam dan aku tak ingin Seungah menunggu lebih lama jadi sebaiknya kita putus, ini yang terbaik untuk kita.”

TING TONG *Anggap saja suara pesan masuk*

Cheonsa melihat sehun memeriksa handphone-nya dengan cepat lalu mengarahkan pandangannya ke semua penjuru café seakan mencari seseorang “Sebaiknya aku pergi duluan, aku akan membayar bill-nya jadi kau bisa makan sepuasnya.” Dengan sekejap sehun siap untuk pergi dan baru beberapa langkah sehun menolehkan wajahnya pada cheonsa “Aku benar-benar minta maaf padamu cheonsa-a, aku berharap kau menemukan pria yang lebih baik dariku. Kau harus tau aku masih menjadi oppa-mu seperti dulu jadi aku harap kita tak canggung jika bertemu nanti”

Cheonsa terlihat seperti orang bodoh sekarang, ia hanya diam termenung sendiri bahkan saat waiters menyajikan makanan tak mengganggu bayangan-bayangan liar yang ada dipikirannya sekarang.
AUHTOR POV END
CHEONSA POV

Tak kusadari aku melamun terlalu lama, aku tak menyadari sudah tersaji makanan kesukaan-ku di café ini bahkan aku sudah tak melihat satu pelanggan-pun di café ini, dan anehnya aku masih merasakan kehadiran sehun oppa dihadapanku tapi 3 jam sudah berlalu, dan saat itu juga aku resmi berpisah dengan sehun oppa. Benci? Ya, aku membencinya dan aku juga membenci diriku sendiri karena jatuh terlalu dalam pada pria seperti oh sehun.

Pelayan cafe sudah memberitahu-ku jika tokonya akan segera tutup dan dengan cepat ku bereskan barangku ke dalam tas kecilku. Setelah memberikan senyumanku pada beberapa pelayan disini kulangkahkan kakiku menyusuri jalan seoul yang terlihat mulai lenggang karena sebagian orang mungkin sudah masuk dalam dunia mimpi masing-masing. Namun aku masih disini mencoba menenangkan hatiku dan berusaha menerima kenyataan bahwa aku bukan wanita yang dipilih sehun untuk mendampinginya. Ya, aku sudah dibuang.

Aku ingat, saat pertama aku melihatnya ia disuruh oh ahjumma untuk mengantarkan makanan pada keluarga kami yang baru pindah di sebelah rumah sehun oppa. Aku tak tahu kapan mulai jatuh cinta padanya tapi saat pertama kali mellihat matanya aku merasa ada yang berbeda pada diriku. Aku selalu ingin berada didekatnya, selalu ingin melihatnya dan selalu ingin diperhatikannya.

Setelah beranjak dewasa aku semakin dekat dengan sehun oppa, eomma dan appa selalu menitipkanku pada keluarga Oh jika sedang bertugas diluar kota. Eomma sangat dekat dengan oh ahjumma maka dari itu eomma berani menitipkanku dan juga ada sehun oppa yang selalu menjagaku. Aku mempunyai kakak laki-laki yang lebih tua dariku 5 tahun ia bernama Han Jaehyun, ia sudah lama tinggal di jepang karena ia lebih memilih tinggal disana bersama halmeoni namun ia sering mengunjungi korea, dan setiap pulang aku sering mendengar rengekannya karena ia selalu cemburu pada sehun yang mengetahui segalanya tentangku. Salahkan saja dia yang memilih tinggal di jepang dan jauh dariku.

Sebenarnya aku sudah menyadari jika jarak antara aku dan sehun oppa sudah mulai renggang dan tak sedekat dulu seperti saat aku masih adik kecil yang selalu dijaganya. Dulu, aku tak boleh pulang tanpa dijemput olehnya karena ia khawatir terjadi padaku ‘seorang wanita tak boleh pulang sendirian, bahaya’ katanya. Tapi lihatlah sekarang, ia bahkan sudah tak memperdulikanku lagi. Sebenarnya ini adalah ketakutanku selama ini, jika aku berpisah dengan sehun oppa kita akan menjadi orang yang berbeda. Bayangkan saja aku sudah terbiasa dengannya, dan dala sekejap aku harus melupakannya. Sangat tak mungkin, aku tak mungkin bisa melakukannya.

Baiklah aku akan mencoba bertanya lagi pada sehun apakah masih ada kesempatan untukku? Ya, aku akan mencoba menelfonnya. Dengan cepat kepencet tombol cepat dan langsung tersambung, setelah menunggu aku mendengar suara namun aku yakin ini suara perempuan. Mungkin aku salah sambung dan saat kulihat ID dan nomer telfonnya benar ini nomer sehun-nya. Dan kudekatkan lagi smartphone-ku pada telingaku, dan yang kudapatkan adalah percakapan seorang wanita dan pria.

“Sehun-a kau sudah dapat nomer antriannya?”
“Eoh, sebentar lagi pesanan kita akan datang”
“Setelah ini kita akan kemana?”
“Terserah padamu jagiya”
“Eoh, kenapa kau mengatakan itu? bagaimana jika ada yang mendengar”
“Gwenchana, aku sudah putus dengan cheonsa dan itu membuatku lega seperti semua beban dari pundakku terangkat.”
“Benarkah?! Wae? Bagaimana reaksinya”
“Gwenchana, dia menerimanya. Dan aku tak ingin kau menunggu terlalu lama untukku.”
“Emm gomawo jaghiya, saranghae”
“Nado saranghae”

Tanpa sadar aku melepaskan peganganku dan itu sukses membuat smartphone-ku jatuh ke trotoar, aku tak tahu tanganku seperti taka da tenaga lagi untuk memegangnya. Dan seketika tubuhku merosot, aku tak peduli dengan tatapan aneh semua orang yang melihatku menangis meraung yang aku tahu dadaku sangat sakit, tak pernah kumerasakan sakit lebih dahsyat dari ini. benarkah itu sehun oppa-ku? Mengapa ia sangat berbeda, tapi aku yakin itu adalah suaranya dan wanita itu pasti seungah eonni karena aku sudah pernah beberapa kali bertemu dan mengobrol dengannya.

Apa mereka sedang bersama sekarang? Bermesraan? Sehun oppa lega setelah putus denganku? Dan apa tadi? Mereka saling mencintai. Dan sebenarnya disini aku yang menghalangi cinta mereka, tapi bagaimana dengan hatiku? Hatiku sangat sakit, aku tak pernah merasa se-malang sebelumnya. Dan tangisanku semakin kencang dan itu berhasil mengundang perhatian orang lain bahkan ada beberapa orang yang menanyakan pertanyaan padaku tapi aku tak bisa mendengarnya, dunia seakan berputar namun aku hanya focus pada hatiku dan dengan kuat aku memukul dadaku karena aku sudah merasakan sesak, ku kepalkan genggamanku sampai buku kuku-ku putih dan mati rasa.

“Kau brengsek oh sehun. Aku berharap kau tak bahagia dengannya. Aku berharap kau merasakan patah hati sepertiku saat ini. Aku berharap aku mati karena patah hati dan setelah itu kau akan merasa bersalah selamanya. Aku berharap kau akan menjadi gila jika ada yang menyebut namaku dihadapanmu.” Rintihku. Aku benar-benar berharap itu terjadi, Aku ingin sehun merasakan bagaimana menjadi diriku saat ini. Aku bukan malaikat, aku tak bisa bertingkah seperti tak terjadi apa-apa disaat seperti ini, aku tak bisa menahan kata-kata kasar yang berada dikepalaku, dan aku takut kehilangan diriku sendiri karena ini.

Kulihat sudah banyak orang yang mengelilingi-ku dan aku mendengar suara ambulance datang mendekat…. Mendekat…. Dan pandanganku buram lalu, gelap.

To Be Continued
SEE YOU IN THE NEXT CHAPTER! *pyongg*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s