YOUNG LOVE #2 – Step Step

PhotoGrid_1480506300761

 

 

TITLE : YOUNG LOVE
AUTHOR : IYONGIE
MAINCAST : LEE YONGJIN, JUNG JAEHYUN
LENGTH : CHAPTER (BEFORE STORY ‘BUTTERFLY’)
GENRE : ROMANCE, SCHOOL LIFE, FRIENDSHIP
RATING : PG-15

€ Storyline by Iyongie
Typo is my style
HAPPY READING !
=====================STORY BEGIN ===========================

 


========== AT TAESAN’S HIGH SCHOOL ==========

 

AUTHOR POV
Liburan musim panas telah selesai, para siswa Taesan terlihat memasuki gerbang sekolah dengan tergesa-gesa karena 5 menit lagi kegiatan pembelajaran akan dimulai. Setelah terdengar bel berbunyi semua siswa segera berbondong-bondong untuk masuk ke kelas dan mulai bersiap-siap untuk belajar.

“Mohon perhatiannya teman-teman, hari ini kim saem tidak bisa mengajar karena sakit dan saya diberi tugas untuk mengumumkan bahwa sekolah kita akan mengikuti olimpiade di tingkat nasional dan 2 orang di kelas kita dipilih untuk mewakili. Lee Yongjin dipilih untuk olimpiade sains, dan saya Jung Jaehyun akan mewakili untuk olimpiade matematika. untuk para peserta akan ada bimbingan dengan guru masing-masing selama 1 bulan ini. apakah ada yang ditanyakan?”

“Kapan lombanya?” tanya wanita mungil berambut pendek yang biasa dipanggil yeri

“Lombanya dilaksanakan bulan Oktober sampai November, karena ada beberapa mata pelajaran jadi jadwalnya akan berbeda, untuk lebih jelasnya lagi akan disampaikan oleh kim saem nanti. Namun yang pasti untuk 2 orang ini akan mempunyai sedikit perbedaan untuk jam pelajaran dan hanya difokuskan pada mata pelajaran olimpiade yang diikuti. Apa ada yang kurang jelas?” tanya jaehyun dengan wajah yang-selalu-datarnya

“Tidak ada”

“Kalau begitu saya akan menuliskan tugas dari kim saem di papan tulis dan dikumpulkan saat sebelum jam istirahat nanti. Untuk 2 orang yang akan mengikuti olimpiade tolong ikut saya ke ruang guru, Winwin-a tolong jaga kelas saat saya tidak ada”

“Yes sir!” jawab pria imut berkebangsaan china yang sekarang sedang menunjukan senyuman mautnya

Setelah mengalihkan tugasnya pada winwin, jaehyun segera melangkahkan kakinya menuju ruang guru diikuti yongjin dan jeno murid kelas sebelah yang kebetulan akan ke arah yang sama. Sesekali terdengar jeno yang sedang mencoba mengajak yongjin untuk berbicara entah mengenai olimpiade yang akan mereka ikuti atau bahkan tentang cuaca hari ini dan sesekali saat melewati lorong kelas lain selalu ada yang memanggil yongjin entah mereka mencoba menggoda yongjin atau memang benar-benar kenal dengannya.
====================================================================================

Total ada 6 siswa yang mengikuti olimpiade tahun ini. Jung jaehyun dan Son wendy di olimpiade matematika Lee Jeno dan Lee yongjin di olimpiade sains, Mark Lee dan Choi Hana di debat bahasa inggris mereka akan dibuat menjadi satu tim karena olimpiade kali ini mempunyai format 2 orang untuk masing-masing pelajaran. Semua siswa-siswi yang terpilih adalah yang menempati 6 besar saat memasuki Taesan dan sangat dipercaya untuk mengharumkan nama taesan di tingkat nasional.

Setelah pertemuan yang memakan waktu 2 jam untuk membicarakan olimpiade para siswa dibawa ke kantor kepala sekolah untuk diberi sambutan dan semangat berjuang. Yongjin sudah biasa mengikuti olimpiade sejak sekolah dasar tapi entah mengapa kali ini terasa berbeda, persaingan disekolah ini sangat kental dan yongjin sudah merasakan itu saat semester 1 kemarin selesai.
‘aku harus melakukan yang terbaik’ batin yongjin

.
.
.
Hari ini adalah hari yang paling menyebalkan bagi yongjin, bagaimana tidak? Saat pelajaran olahraga tadi ia terjatuh saat lomba lari jarak 100m dan mendapatkan luka yang cukup serius karena posisi terjatuhnya yang cukup ekstrem. Lutut dan pergelangan kaki sebelah kanan juga goresan di pipi kanan adalah buktinya. Entah bagaimana kronologisnya tapi yang yongjin ingat orang yang pertama menghampirinya adalah jaehyun, dengan sigap langsung berlari kearah yongjin lalu menggendongnya ke ruang kesehatan.

Saat mereka datang ke ruang kesehatan tak ada satupun perawat atau dokter yang berjaga dan alhasil jaehyun langsung mendudukan yongjin di salah satu bed. Dengan tergesa-gesa jaehyun membuka tirai lalu mencari obat yang kira-kira bisa mengurangi rasa sakit yang yongjin rasakan, bukan mencari lebih tepatnya mengacak-acak tempat penyimpanan obat.

Setelah menemukan obatnya jaehyun segera menghampiri yongjin yang sedang menatapnya tanpa berkedip. Dan itu membuat jaehyun sedikit salah tingkah, namun dengan poker face-nya jaehyun menempelkan pantatnya dikursi yang sudah ia simpan tepat didepan yongjin.

Dan disinilah mereka, duduk saling berhadapan dengan jarak yang terbilang cukup dekat. Bahkan yongjin bisa merasakan hembusan nafas cepat jaehyun dari jarak sedekat ini. Tanpa sadar mereka hanyut dalam pikiran masing masing, jaehyun sangat telaten membersihkan luka yongjin dan itu sukses membuat yongjin terpana. Setelah memberi salep jaehyun menutup luka di pipi yongjin dengan plaster.

Setelah itu jaehyun membuka sepatu yongjin dengan pelan tapi tetap saja membuat yongjin meringis. Setelah berhasil membuka sepatunya, jaehyun dapat melihat dengan jelas lukanya dan itu membuatnya mengerutkan kening. Sesaat kemudian jaehyun mengambil smartphone yang ada disaku-nya dan memencet tombol lalu terhubung dan beranjak dari kursinya.

AUTHOR POV END

YONGJIN POV

“Kita akan ke Rumah Sakit, kau terkilir cukup parah. Hari ini dokter Jang tak ada dan petugas klinikpun sedang sibuk pelatihan” Ucap jaehyun kembali setelah beberapa saat menghilang tanpa kata, sebenarnya aku berpikiran buruk tentangnya, meninggalkanku sendirian disini misalnya.

“Gwenchana, aku tak mau ke rumah sakit. Lagipula ini hanya terkilir biasa, aku bisa menahan sakitnya sepertinya besok juga sembuh” ucapku dengan menggelenggelengkan kepala sebagai bentuk protes dari saran jaehyun. Lagipula ini hanya kecelakaan kecil bagiku, sudah sering sekali aku terjatuh dan terkilir. Bahkan kakak-ku sering mengejek aku terjatuh karena kakiku yang lemah

“Andwae, kau harus ke rumah sakit. Aku sudah membersihkan luka dilututmu dan kita akan langsung ke rumah sakit, lagipula aku sudah meminta izin pada Jung saem dan supir park sudah menunggu kita di parkiran.” jaehyun mengatakan itu dengan nafas yang terengah-engah seperti ia sudah berlari ke ujung dunia dalam hitungan menit. Tunggu, ia sudah meminta izin dari jung saem? Berarti ia keluar tadi untuk meminta izin ke rumah sakit? Aku berfikir sangat keras

“Aku baik-baik saja jaehyun-ssi, kita tak perlu ke rumah sakit. Lebih baik aku menunggu petugas klinik selesai pelatihan saja, aku tak ingin merepotkanmu” ocehku sambil menghitung keramik yang berada disekitar kaki jaehyun.

“Kau akan lebih merepotkanku jika tak bisa mengikuti olimpiade hanya karena jatuh saat pelajaran olahraga Lee Yongjin” ucapnya datar

Aku tersentak saat ia sudah menggulungkan training olahragaku sampai diatas lutut. Dan posisi seperti ini sepertinya sangat langka karena aku bisa melihat jaehyun dari sudut yang tak biasa, aku bahkan bisa melihat dengan jelas keringat yang mengalir didahinya. Dengan refleks aku menyeka keringat itu dengan punggung tanganku, dan itu berhasil menghentikan gerakan jaehyun yang sedang focus menggulung pergelangan kaki-ku sepertinya ia akan memakaikan gips.

“AAWWWW” teriakku

“Wae? Sakit?” demi tuhan, ia mengucapkan itu dengan nada yang khawatir seakan-akan aku sedang menjadi korban tabrak lari yang harus ditangani segera oleh dokter. Aku hanya menggeleng

Sebenarnya mengapa ia berbuat seperti ini dan untuk apa? Yang aku ingat ia adalah seseorang yang selalu menyebalkan saat bertemu denganku bukan seseorang yang akan mengkhawatirkanku karena luka yang sudah sering kualami ini.

“Aniya, hanya sedikit ngilu” ucapku dan sedikit tersenyum karena kebodohanku yang langsung berdiri dan lupa jika kaki kanan-ku terkilir

“Aigoo” decaknya sambil menggelengkan kepala dan langsung menjongkokkan kakinya seperti memintaku untuk naik ke punggungnya “Naiklah” titahnya dengan suara berat khasnya

“Aniya jaehyun-ssi aku benar baik-baik saja, aku bisa sendiri.”

“Bisakah kau tak mendebatku saat ini? Aku sedang tak ingin berdebat denganmu. Sekarang. Naik.” Mwo? apakah dia sudah gila? Aku benar-benar tak biasa melihat sikapnya seperti sekarang ini. Seolah-olah ia memang mempunyai hubungan yang baik denganku, seolah-olah ia memang peduli denganku. Tunggu, apakah ia memang peduli denganku? Tapi itu sangat mustahil, melihat dari kepribadiannya jaehyun bukanlah orang ‘sebaik’ itu, entahlah mungkin karena ia ketua kelas dan merasa bertanggung jawab karena ini adalah kecelakaan saat kelas berlangsung.

“Lee yongjin, apakah kau tuli?” geramnya masih dengan posisi menumpukan satu kaki dilantai siap untuk menahan beratku saat menaiki punggungnya.

Sepertinya tubuhku mengkhianatiku karena saat ini aku sudah menempatkan tubuhku diatas punggungnya, dan tak perlu waktu yang lama agar ia berdiri dan berjalan ke arah parkiran.

Saat keluar dari ruang kesehatan semua pandangan menuju kearah kami, entah karena mengasihaniku karena terluka atau melihat kejadian langka ini. Ya, melihat Jung Jaehyun peduli dengan orang lain adalah hal yang langka, heyyy bukankan aku sudah bilang jika ia adalah orang tercuek sedunia? Bahkan wanita-wanita cantik yang sudah menyatakan perasaannya ia tolak mentah-mentah, entah apa yang akan ia lakukan jika aku yang menyatakan perasa- mwo? aku pasti gila karena memikirkan aku akan menyatakan perasaanku pada jaehyun.

“Wae? Apa kepalamu pusing? Kenapa menggeleng-gelengkan kepalamu seperti itu?” ia mengatakan itu sambil membalikkan wajahnya dan itu sukses membuat jarak wajah kami sangat amat dekat. Aku tak tahu mengapa aku sangat malu saat ini

“Aniya, aku hanya merasa malu semua orang memandang kita sekarang” ucapku sambil menundukan kepalaku ke arah leher jaehyun yang sudah berkeringat tapi anehnya itu tak membuat aku merasa jijik

“Ya! Jangan seperti itu, Ya! Hajima!” mwo? apa ini? Ternyata makhluk sepertinya bisa tersenyum meskipun secara tak langsung.

“Mianhaeyo” bisikku ditelinganya dan itu kembali membuatnya kegelian

“Ya! Kau sengaja kan?” tuduhnya

“Aniya, aku hanya minta maaf apakah tak boleh?” seruku

“tapi apakah perlu berbicara sedekat itu dengan kupingku? Kau sengaja kan?”

“Mwo? sengaja? Tidak!” elakku

“Tentu saja kau pasti sengaja, kau kan sangat membenciku” hatiku sedikit terenyuh saat ia mengatakan jika aku membencinya. Sungguh aku tak membencinya, tapi hanya merasa ‘kesal’? Entahlah yang penting aku yakin aku tak benar-benar membencinya. Tanpa sadar aku memperhatikannya dari samping dan sangat dekat, terlihat jelas kulit, alis, bulu mata, hidung, bibir dan lehernya sangat sempurna pantas semua orang memujanya. Dan saat merasa jaehyun akan memalingkan mukanya dengan cepat kualihkan pandanganku dan segera menutup mata, berpura-pura untuk tak mengagumi ketampanannya.

Saat kubuka mata, saat itu juga aku baru tersadar jika kami sudah sampai di parkiran dan sudah ada pria yang memakai pakaian tuxedo menunggu kami sambil membukakan pintu belakang.

“Turun, kita sudah sampai.” Ucapnya dan dengan hati-hati jaehyun menurunkanku tepat di pintu belakang. Setelah memastikan aku duduk dengan baik ia berlari kecil untuk masuk ke dalam mobil melaui pintu yang lain.

Tak pernah terbayangkan aku akan menaiki mobil seorang Jung jaehyun, pria yang diagung-agungkan di Taesan sedang duduk bersebelahan denganku dan akan mengantarkanku kerumah sakit hanya karena kejadian konyolku saat olahraga tadi. Percayalah aku sering mengalami kejadian ini dan besoknya kakiku pasti sembuh, ya mungkin paling lama satu minggu akan kembali seperti semula. Bahkan eomma sudah bosan mendengarku jatuh dan terkilir seperti ini, tapi mengapa seorang jung jaehyun terlihat begitu peduli padaku. Bahkan jika aku tak mengikuti olimpiade ia takkan rugi, entahlah aku tak ingin mengira-ngira mungkin saja ia sedang baik hari ini. Ya, mungkin saja seperti itu
================================================================================

Hari sudah mulai gelap, burung pun sudah kembali ke sarangnya. Sama sepertiku yang baru saja menempatkan pantatku diatas Kasur kesayanganku dibantu oleh kakak perempuanku, Lee Younha. Hari ini hari yang sangat panjang, dari mulai terjatuh dan melakukan pemeriksaan berjam-jam dirumah sakit aku tak tahu hanya karena jatuh ringan saja aku harus melakukan berbagai macam pemeriksaan pada tubuhku ini. Saat aku akan menutup mataku aku merasakan hawa ang sangat menyebalkan disampingku.

“Ya lee yongjin, tak usah berpura-pura tertidur disaat seperti ini” ucap kakakku yang sedang menatapku dengan sengit

“Aku lelah eonni, tak bisakah kau tak menggangguku sehari saja?”

“Aku takkan membiarkanmu tidur disaat-saat penting seperti ini. Kukira kita sudah berjanji untuk saling terbuka untuk masalah ini, mengapa kau melanggar janji?”

“Mwo apa maksudmu? Aku benar-benar lelah eonni, cepat keluar dan jangan lupa matikan lampu.” Jawabku acuh

“YA! KAU MEMANG SEEKOR RUBAH! BAGAIMANA MUNGKIN KAU TAK MENCERITAKAN TENTANG NAMJACHINGUMU PADAKU! DIA BAHKAN SUDAH BERANI DATANG KERUMAH DAN KAU MASIH BERSIKAP TENANG SEPERTI INI. KATAKAN SUDAH BERAPA LAMA KALIAN BERSAMA?!” kakakku berteriak memukul lenganku berkali-kali namun aku tahu ini hanya Bahasa tubuhnya karena pukulannya sama sekali tak menyakitiku. Kakakku memang agak sedikit bar-bar jika sudah menyangkut pria, ia adalah spesies wanita yang tak bisa hidup tanpa pria, bahkan saat kecil aku mengira ia adalan maniak pria saking banyaknya pria yang sudah ia kencani.

“Aigoo jangan berteriak eonni kupingku sakiiit!” ucapku sambil menjauhkan tubuhnya dariku untuk berjaga-jaga ia kembali memukuli tubuhku yang berharga ini “Dia mengantarkanku pulang karena sudah larut malam dan keadaan kakiku tak memungkinkan untuk menaiki bus sendirian. Dan juga dia bukan namjachingu-ku, dia hanya ketua kelas yang kebetulan ditugaskan untuk mengantarkanku kerumah sakit karena aku terjatuh saat lomba lari tadi.” Tuturku

“Jinjja?! Kurasa dengan tatapannya dan perlakuannya padamu, dia menganggapmu lebih dari teman adikku sayang, lagipula dia sangat ‘hot’ untuk ukuran anak SMA sepertimu jika aku lebih muda 5 tahun aku akan mengejarnya untuk menjadi pacarku”

“Aigoo aigoo~ kakakku sekarang sudah menjadi wanita jalang yang suka menggoda pria muda.”

“Ya! Kau adik kurang ajar menyebut kakak sendiri wanita jalang!” younha eonni mengambil bantal kecil dan segera mengarahkannya padaku

“Eonni! Apakah kau tak lihat aku sedang sakit? Akan kupanggil eomma jika kau terus menganiayaku!”

“Panggil saja, dan luka ini bukankah kau sering mengalaminya? Kau ini hanya luarnya saja perempuan, padahal tubuhmu itu lebih kuat dari seorang pria dewasa sekalipun. Rasakan ini” dengan bar bar younha eonni terus mengarahkan bantalnya kearahku dan yang aku lakukan hanya menyilangkan tanganku diatas kepalaku dan berteriak memanggil eomma. jika saja kakiku tak cedera pasti aku akan menyerang balik karena yang dikatakan kakakku kekuatanku lebih besar dan setiap perkelahian kami aku yang selalu menang.

Kami berhenti saat eomma berteriak dari luar dan mengancam memotong uang bulanan kami. Untung saja hanya diancam dipotong uang bulanan, dulu pernah saat kami terus bertengkar eomma menyuruh kami tidur diluar rumah dan akhirnya kami tidur bangku halaman, untung saja tumah kami mempunyai pagar dan tembok yang tinggi, kalau tidak kami pasti sudah diculik.

Meskipun kami terlihat seperti kakak-adik yang selalu bertengkar tapi sebenarnya itu adalah wujud kasih sayang kami, kami tak suka menyampaikan secara langsung kami saling menyayangi dan lebih menunjukannya dengan perbuatan. Sebagai contoh aku selalu melindungi kakakku jika sedang dimarahi appa atau eomma, dan kakakku sering menghukum siapapun yang suka menjahiliku. Ya, seperti itulah gambaran persaudaraan kami, unik bukan?

YONGJIN POV END

=====================================================================================
## At School ##

AUTHOR POV

Hari ini ada yang terlihat berbeda dengan Lee Yongjin dan itu sukses membuatnya menjadi pusat perhatian, saat ia berjalan ke ruang kelasnya orang-orang yang sebagian ia kenal bertanya ada apa dengan kakinya yang sekarang dibalut dengan gips dan menggunakan kruk untuk membantunya berjalan. Yongjin hanya tersenyum dan berkata ‘Gwenchanayo, ini hanya cedera kecil’ entah sudah berpaa kali ia mengatakan itu dan ia sangat bersyukur saat beberapa langkah lagi ia akan tiba di kelasnya.

Saat yognjin akan masuk dipintu depan ia sang ketua kelas yang sedang membawa beberapa lembar kertas yang yongjin yakin itu daftar absen kelas bulan ini. Yongjin sudah menyiapkan beberapa kata untuk menyapa jaehyun hanya untuk basa-basi dan menunjukan rasa terimakasihnya karena jaehyun sudah membantunya kemarin

Yongjin sudag siap dengan suaranya yang akan dibuat se-friendly-mungkin

STEP
STEP
STEP

“Selamat pagi jae-“ bagaikan ada orang yang mengguyurnya dengan air dingin tepat di atas kepalanya, yongjin membeku ditempat dengan mulut menganga sebagai bukti bahwa ia sudah mengeluarkan beberapa kata dimulutnya. Namun yang ia sapa hanya melewatinya begitu saja tanpa melihat kearahnya.

Untung saja keadaan kelas sedang ramai dan ia yakin tak ada yang menyadari jika sekarang yongjin sudah termasuk perempuan yang diabaikan jung jaehyun.

‘bodoh bodoh bodoh kau lee yogjin, lagipula apa yang ada dipikiranmu?! Mengapa kau berusaha bersikap baik padanya? Tapi, bukankah dia adalah orang yang sama yang begitu panik saat aku terjatuh kemarin? Apa itu hanya pura-pura? Sudahlah sekarang aku harus berfikir dimana aku akan menaruh kruk sialan ini’ batin yongjin

.
.
.
.

Pagi ini pagi yang sangat melelahkan bagi yongjin, bagaimana tidak? Hari ini adalah weekend dan ia harus tetap ke sekolah karena ada bimbingan tambahan dengan Jang Saem untuk olimpiade nanti. Dan sialnya lagi tak ada satupun yang dapat mengantar yongjin ke sekolah karena appa sedang perjalanan bisnis di jeju, eomma memang tak bisa mengendarai mobil ataupun motorcycle, dan harapan satu-satunya pupus saat kakakku sudah ada janji dengan pacarnya. Terpaksa aku naik bus dengan keadaan kaki yang masih terbalut gips, meskipun sudah tak memakai kruk karena yongjin pikir terlalu berlebihan jika ia menggunakan kruk dan ia tak mau menjadi pusat perhatian lagi. Ya meskipun yongjin akui bahwa kakinya masih sakit tapi sudah berangsur membaik.

Yongjin memasuki ruang C, dan terlihat sudah ada jung jaehyun yang duduk dimeja panjang tempat ia selalu belajar dengan jang saem. Memang tempat ini yang sering digunakan untuk rapat tapi sekarang dikhususkan untuk tempat siswa olimpiade belajar. Dengan langkah pelan dan sedikit pincang yongjin menempati tempat duduk yang bersebrangan dengan pria itu. Dan itu sukses mendapat perhatian jaehyun yang langsung menatap yongjin dengan seksama, namun yongjin berusaha untuk biasa saja.

30 menit berlalu dengan hening, tak ada sepatah kata keluar dari mulut keduanya. Dan yongjin sudah mulai gelisah, tak biasanya jang saem terlambat dengan janjinya dengan cepat ia mengacak-acakk isi tas untuk mengambil smartphone-nya

“Jang Saem terkena macet, jadi ia akan sedikit terlambat” yongjin terkejut saat jaehyun berbicara dan itu membuat jaehyun ‘sedikit’ menyunggingkan senyumnya.

“ah nde” ucap yongjin dan kembali duduk tenang dan kembali meneliti ruangan ini

Tak lama kemudian wendy dan jeno datang bersamaan dengan jang saem, setelah saling menyapa mereka berdiskusi tentang bagaimana strategi yang akan mereka gunakan saat olimpiade nanti karena sains dan matematika punya jadwal pada hari yang sama saat di olimpiade nanti.

Waktu terus berjalan, matahari sudah mulai terbenam dan saat itu juga jang saem mengakhiri pertemuannya. Setelah membereskan peralatan yang telah dipakai semua saling mengucapkan salam dan keluar ruangan secara terpisah. Yongjin yang memang tak bisa berjalan cepat tentu saja membiarkan jeno dan wendy pulang duluan dan beralasan akan ke toilet.

Setelah dirasa cukup, yongjin keluar dan kembali menahan sakit dikakinya namun tiba-tiba ia merasakan ada yang mengawasinya. Saat ia berbalik

“Bukankah aku sudah memberitahumu jika kau dapat izin untuk istirahat 3 hari karena lukamu cukup parah.” Jaehyun mengucapkan itu tatapan yang tajam seakan ia sedang memperingatkan jika yongjin sudah melakukan hal yang salah

“Hari itu aku sudah berjanji pada Jang saem dan jeno untuk melakukan simulasi untuk olimpiade nanti, jadi aku harus datang” yongjin berusaha untuk tenang karena sekarang ia sedang ditatap oleh jaehyun, bukan karena takut tapi yongjin takjub dengan mata jaehyun yang berwarna coklat terang. Ia benar-benar terjebak pada mata itu

“Tidakkah kau mendengar apa kata dokter? Bedrest 3 hari dan menggunakan kruk selama seminggu penuh. Dan lihat bahkan sekarang kau sudah berani tak memakai kruk, apa kau pikir cederamu itu lelucon?”

“Sekarang kakiku sudah membaik, tenang saja aku punya kaki yang kuat dan aku yakin aku bisa kembali sembuh dengan cepat jaehyun-ssi”

“Apakah kau sedang bercanda? Bahkan orang dari lantai tiga bisa melihat jika kau merasa kesakitan saat berjalan seperti tadi.” Dan tanpa aba-aba yongjin mendapati tubuhnya terangkat

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN!” Yongjin merasa keadaan sedang terancam, bagaimana tidak? Kini keadaan sekolah sudah sore dan tak terlihat siapapun disini. Dan sekarang ia sedang digendong ala bridal style oleh pria yang tak akrab dengannya. “JUNG JAEHYUN TURUNKAN AKUUUU~”

“Wae? Kau takut?” ejeknya

“KAU PIKIR APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN JAEHYUN-SSI?” jaehyun melangkahkan kakinya dengan santai seakan yongjin adalah kapas yang tak berat sama sekali

“Menculikmu mungkin” jaehyun menyeringai “Apakah kau punya kata-kata terakhir?”

“Dagingku tak enak, jangan membunuhku” dan itu sukses membuat jaehyun tersenyum lebar dan yongjin terpana melihat itu. Senyuman itu, lebih indah dari lukisan manapun di dunia ini.
.
.
.
.
Setelah berjuang menaiki tangga tibalah mereka disini, ditempat rahasia yang hanya diketahui oleh Jung Jaehyun. Yang yongjin lakukan hanya melihat tempat ini tanpa berkedip, ini tak seperti Rooftop kebanyakan. Ini rooftop yang paling indah yang yongjin tahu. Memang saat dipintu terlihat biasa saja, tapi saat berjalan terus dan melihat kearah kanan akan terlihat pemandangan kota seoul yang indah seakan ini adalah tempat tertinggi mengalahkan 63 buildings. Ditambah ada sofa yang cukup besar cukup untuk 3 orang dewasa berwarna hijau tua terlihat tak terurus tapi masih bisa terpakai dan ada beberapa meja dan kursi yang ditumpukan berwarna-warni lalu diatasnya ada sebuah terpal yang terlihat seperti sengaja untuk jadi tempat berteduh jika hujan datang.

Saking terpesonanya yongjin tak sadar saat jaehyun menurunkannya disofa. Dan seketika keadaan menjadi sangat canggung karena hanya mereka bedua yang ada disini. Yongjin melihat jaehyun sedang mencari sesuatu di tasnya. Dan tak lama kemudian ia mengeluarkan berkas berwarna putih sambil mengerutkan dahinya yongjin membuka dengan hati-hati dan teryata itu adalah hasil Rontgen kakinya saat dirumah sakit 3 hari yang lalu.

“Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahu jika hasilnya sudah keluar tadi pagi. Dan aku langsung mengambilnya. Dan” yongjin memalingkan wajahnya kearah jaehyun dan ia tersentak saat jaehyun membuka perban yang da dipipinya lalu mengoleskan salep yang yongjin yakini itu adalah obat yang sama yang ia punya dirumah

“Sepertinya luka ini sudah sembuh, ini hanya bekasnya saja” bisik jaehyun seakan ia berbicara pada dirinya sendiri

“Ah nde” ucap yongjin terlihat salah tingkah karena saat ini wajah mereka sangat dekat, dan yongjin merasakan jantung bekerja dua kalilipat sekarang.

“Berikan kakimu”

“Mwo?” Yongjin kembali mengerutkan kakinya saat jaehyun sudah berlutut dikakinnya. Yongjin masih terpaku saat jaehyun membuka gips di kakinya, tangannya seperti sudah terampil melakukan ini. dengan hati-hati ia membuka dan memasangkan gips yang baru

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya yongjin heran

“Dokter mengatakan kau belum datang lagi menemuinya, dan menyuruhku melihat jika ada luka memar baru dan mengganti gips-nya. Sepertinya kau benar, kakimu sudah lebih baik sekarang.” Jaehyun mengatakan itu sambil memandang wajah yongjin dan itu berhasil membuat mereka kembali salah tingkah, dengan cepat jaehyun memakaikan kembali sepatu yongjin dan kembali duduk namun agak sedikit menjaga jarak dengan yongjin

“ini semua gara-gara bayam” gumam yongjin

“Mwo?”

“Appa pernah bilang jika aku makan bayam dan minum susu aku akan tumbuh sehat dan tinggi. Ini terbukti kakiku cepat sembuh pasti karena bayam dan susu” mata yongjin melebar dan ia meletakkan jari di bibirnya seperti orang yang sedang berpikir dengan keras dan itupun tak luput dari pandangan jaehyun pada yongjin

“Apa kau selalu bertingkah bodoh seperti sekarang ini?” jaehyun mengatakan dengan alis yang ia naikkan sebelah dan itu tentu saja membuat yongjin tersinggung seolah ia adalah makhluk paling aneh di dunia

“Apa kau selalu bertingkah cerewet seperti sekarang ini?” tak tahan terus menerus memandang wajah yongjin, jaehyun segera memalingkan wajahnya, berbaring dan meletakkan kedua tangannya dibawah kepala sambil melihat kearah langit yang sebentar lagi akan semakin gelap.

Jaehyun merasakan hal aneh yang terjadi pada jantungnya, saat yongjin meniru apa yang dilakukannya saat ini.

“Woah, ini sangat indah. Kukira sunset dipantai adalah sunset yang paling indah, ternyata aku salah, sunset diatap yang paling indah.” Bisik yongjin namun masih terdengar oleh pendengaran jaehyun.

“Jaehyun-a, kurasa kita salah paham selama ini. Aku tak pernah membencimu seperti yang selama ini kau pikirkan, aku tak tahu mengapa kau bisa berfikiran seperti itu tapi aku hanya ingin kau tahu jika aku tak membencimu dan ini mungkin sangat terlambat tapi aku ingin berterimakasih karena kau sudah membawaku kerumah sakit saat itu.” Jaehyun melihat itu, melihat senyuman yang selalu dirindukannya. Seakan ia sedang melihat ibunya tersenyum, jaehyun tak mengenali perasaan ini tapi yang pasti ia sangat menyukai saat perempuan yang ada dihadapannya ini tersenyum padanya.

 

 

 

============== TO BE CONTINUE =====================

Advertisements